Home Berita Caleg Muda di Pemilihan Anggota DPR RI 2019

Caleg Muda di Pemilihan Anggota DPR RI 2019

Comments Off on Caleg Muda di Pemilihan Anggota DPR RI 2019
0
170

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum(KPU) RI yang diolah oleh Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), terdapat 929 calon anggota legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI 2019 yang merupakan kaum muda, yakni berusia dibawah 34 tahun. Jumlah ini sama dengan 11,62 persen dari total jumlah caleg DPR RI sebesar 7.993, namun tak termasuk caleg dari Partai Demokrat dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), sebab mayoritas caleg dari kedua partai tak mengizinkan data dirinya dipublikasi ke publik.

“Demokrat dan Hanura kita gak tahu, karena info tentang caleg tidak dibuka oleh para calegnya,” kata Peneliti Perludem, Mahhardhika pada diskusi “Menjadi Pemilih Pintar dengan Bekal Informasi Memadai” di Auditorium Kedasi, Tanah Abang, Jakarta Pusat (19/1).

Selanjutnya, Dhika menjelaskan bahwa mayoritas caleg muda berjenis kelamin perempuan. Detilnya, 647 perempuan dan 282 laki-laki. Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merupakan tiga partai yang paling banyak mencalonkan caleg muda. Sebaliknya, yang paling sedikit mencalonkan yakni Partai NasDem, Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

“Ada 216 caleg muda dari PSI, 113 dari PPP, dan 85 dari PKB.Yang paling sedikit caleg muda, Nasdem hanya 27, Garuda 9, da 1 PKPI,” ujar Dhika.

Dari latar belakang pendidikan, mayoritas caleg muda berpendidikan terakhir S1. Sisanya, SMA, S2, D3, dan S3. 929 caleg muda telah lulus S1, 319 lulus SMA, 121 lulus S2, 28 lulus D3, 5 lulus S3, dan 69 caleg tidak mengisi data informasi.

“Jadi, masih didominasi oleh mereka yang S1,” tukas Dhika.

Caleg muda banyak ditempatkan di nomor urut 6, 3,5, dan 7, serta banyak tersebar di provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. 553 caleg muda telah menikah dan 361 lainnya pernah menikah.

Pendiri Youth Proactive, Lia Toriana mengapresiasi kaum muda yang maju sebagai caleg. Namun menurutnya, keberadaan caleg muda tak akan berarti tanpa program-program yang dapat menjawab kebutuhan nyata kaum muda, seperti tersedianya lapangan pekerjaan, upah yang layak, dan akses pendidikan yang mudah dan murah.

“Kebutuhan soal kepastian pekerjaan, baik di daerah rural maupun urban ini sangat kompleks.Di urban, kaum muda gelarnya bagu, lulus dari kampus bagus, tapi pekerjaannya belum pasti. Kedua, soal upah. Saat institusi-institusi menawarkan pekerjaan, tapi upahnya layak gak buat milenial. Ketiga, pendidikan,” terang Lia.

Lia mendorong pemilih muda atau pemilih milenial untuk kompak dan berkonsolidasi membentuk politik alternatif kaum muda dengan memilih caleg muda yang menawarkan program-program yang menjawab kebutuhan khas kaum muda. Namun Lia mengingatkan, bahwa politik alternatif tak selesai hanya sampai terpilihnya caleg muda, melainkan mengawal janji-janji politik kaum muda dan membangun pemberdayaan politik kaum muda, agar kebijakan yang dibentuk oleh lembaga legislatif mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan kaum muda.

“Pemberdayana politik inilah yang sangat penting menjadi keberlanjutan dari kontestasi pemilu itu sendiri. Makanya, jika peserta pemilu melihat pemilih milenial sebagai rekan, bukan objek suara, perubahan baik bisa kita raih,” tuturnya.

Load More Related Articles
Load More By AMALIA SALABI
Load More In Berita
Comments are closed.

Check Also

Titi Anggraini: Kehadiran Pemantau Pemilu Asing Tak Bisa Dipaksakan

Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) merupakan lembaga masyarakat sipil kedua…