Home Wawancara Diah Setiawaty: Aplikasi Pemilu API untuk Keterbukaan Informasi Pemilu

Diah Setiawaty: Aplikasi Pemilu API untuk Keterbukaan Informasi Pemilu

Comments Off on Diah Setiawaty: Aplikasi Pemilu API untuk Keterbukaan Informasi Pemilu
0
698

Partisipasi pemilih sejalan dengan keterbukaan informasi pemilu. Masyarakat lebih sering mengalami kendala minim informasi. Sehingga, mereka sulit menentukan pilihan kandidatnya secara tepat. Hal ini tentu menghambat kemajuan penyelenggaraan pemilu kita.

Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) tengah mengupayakan keterbukaan informasi pemilu itu dengan menghadirkan Application Programming Interface (API) berbasis data pemilu. Dengan API Pemilu, pengembang teknologi informasi dapat menciptakan berbagai aplikasi yang memudahkan pemilih mendapatkan informasi soal pemilu, termasuk informasi calon legislator (caleg). Berikut ini wawancara Heru Suprapto dengan program officer API Pemilu, Diah Setiawaty.

Apa latar belakang Perludem membuat program Application Programming Interface (API) Pemilu? 

Perludem berupaya memberikan informasi pemilu kepada para pemilih dengan lebih baik. Selain itu, mendorong akses informasi pemilu untuk masyarakat dan mendukung usaha KPU RI untuk mendorong partisipasi masyarakat di pemilu. Peluncuran API Pemilu juga menjadi komitmen Perludem terhadap Open Government Partnership (OGP) dalam mendukung usaha-usaha pemerintah Indonesia untuk meningkatkan transparansi, memberdayakan masyarakat, memerangi korupsi, dan memanfaatkan teknologi baru untuk memperkuat pemerintahan.

Masalah yang muncul sampai saat ini adalah soal ketersediaan data yang ada bukan dalam bentuk database (csv/ xls). Sehingga, programer atau developer teknologi informasi tak mudah memproses data-data ini menjadi perangkat web atau aplikasi yang memudahkan pemilih mengaksesnya.

Apa manfaat langsung yang dapat diterima pemilih dari API Pemilu?

Dengan API Pemilu, pemilih akan mendapatkan aplikasi-aplikasi informasi pemilu dengan tampilan yang menarik. Tentunya, ini kerja keras developer dalam membuat aplikasi yang dapat juga diperoleh melalui perangkat android, ios, I-store, dll. Diharapkan, informasi pemilu menjadi mudah diakses dan memiliki daya tarik. Terlebih, sampai saat ini banyak masyarakat menggunakan smartphone dan gedget, terutama pemilih muda dan pemula.

Di aplikasi yang sedang kami kembangkan, pemilih dapat melihat profil calon legislator (caleg) di daerah pemilihannya dan membandingkan kualitasnya. Sehingga, pemilih dapat memilih caleg yang tepat, berkualitas, dan memenuhi tuntutan aspirasi rakyatnya.

Bagaimana Diah dan Perludem melihat pentingnya teknologi informasi bagi kemajuan pemilu?

Teknologi informasi sangat dibutuhkan dan tak dapat dihindari bagi kemajuan pemilu di Indonesia. Sebagai negara dengan penyelenggaraan pemilu paling kompleks di dunia dan dikelilingi lebih dari 17.000 pulau, teknologi informasi merupakan sarana yang sangat menunjang efektifitas, efisiensi, dan transparansi kerja-kerja penyelenggara pemilu, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Teknologi  informasi juga dibutuhkan untuk mendokumentasikan dan mengorganisasi berbagai data pemilu yang tersebar di seluruh Indonesia. Data-data ini sangat berharga untuk didokumentasikan tak hanya untuk legalitas administrasi sebuah proses demokratisasi. Tetapi, sebagai sumber riset atau pembelajaran yang berharga dalam khasanah keilmuan di Indonesia.

Terakhir, teknologi informasi sangat dibutuhkan dalam usaha-usaha pendidikan dan informasi pemilu dan untuk menjangkau voter di Indonesia yang kebanyakan sudah menggunakan ponsel, smartphone, dan internet. Bahkan, penduduk Indonesia menduduki peringkat atas dalam penggunaan berbagai sosial media (facebook, twitter, path, dll) di dunia. Sangat disayangkan jika pemerintah tak memanfaatkan dan mendalami potensi akses teknologi informasi ini dengan serius.

Di sisi lain, masyarakat yang sangat membutuhkan informasi terkait pemilu ini, hanya mendapatkan channel informasi pemilu hanya dari satu sumber utama, yaitu media televisi. Menurut survei ABG Nielsen Media Research, pada tahun 2012 pola konsumsi televisi mencapai 94 persen di Indonesia.

Padahal, hampir seluruh televisi tak menjalani peran literasi media (memberdayakan masyarakat untuk kritis terhadap tayangan televisi) dan banyak sekali media yang melakukan oligarki politik (pemilik stasiun televisi petinggi partai politik).

Apa yang ingin dicapai dari penyelenggaraan lomba hackathon di Bandung tanggal 8-9 Maret yang lalu?

Perlombaan yang diselenggarakan dua hari kemarin menjadi peluang bagi Perludem untuk mengajak para pengembang software dan desainer website untuk menciptakan prototipe yang unik dan kreatif. Mereka bisa mengembangkan database API Pemilu dengan membuat aplikasi situs mobile, aplikasi, widget, game trivia, atau sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Dari pengembangan aplikasi ini, Perludem ingin meningkatkan ketersediaan dan kemampuan pencarian informasi penting menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden tahun 2014 di Indonesia.

Apa saja yang dihasilkan dari hackathon dan manfaatnya bagi pemilih?

Banyak aplikasi baru yang bermunculan. Presentasi aplikasi mereka menarik sekali. Dari seratus lebih developer, juri memilih 3 pemenang utama. Pemenang pertama berasal dari Jakarta dengan tim Appkitchens. Mereka mengembangkan aplikasi mobile web bernama Orang Baik. Aplikasi ini untuk mengetahui biodata dan kemampuan para caleg dengan sistem skor.

Pemenang kedua berasal dari Bandung. Melalui kerja tim Ciheulang ini aplikasi informasi pemilu ditampilkan menarik dalam bentuk game quiz casual bernama Pemilu Hore. Game ini menghadirkan pertanyaan seputar pemilu legislatif.

Sedangkan pemenang ketiga berasal dari Singapura. Mereka sebelumnya pernah membuat aplikasi bernama Pemilu yang dapat diakses di Google Play Store ini menciptakan aplikasi barunya bernama Caleg Store. Yang beda dari aplikasi ini, pemilih dapat sekaligus membandingkan dua caleg untuk dipilih dengan melihat latar belakang pendidikan dan keluarganya. Tim ini juga memperhatikan tampilan warna yang dapat dilihat oleh mereka yang mengalami gangguan pembedaan warna.

Masih banyak lagi aplikasi yang dapat Perludem luncurkan ke depan.

Bagaimana apresiasi stakeholder (pemerintah, penyelenggara pemilu, partai, dan masyarakat) atas adanya API Pemilu dan even hackathon?

Apresiasi yang diterima sangat baik, KPU lewat Pak Ferry sangat mendukung acara ini, beliau membuka even ini. Bahkan, menyarankan untuk membuat Hackaton kedua sebelum Pemilu Presiden. Pihak Bawaslu mengirimkan kawan-kawan dari Bawaslu untuk datang, mereka juga tertarik untuk membuat sistem teknologi informasi yang menarik atau juga merekrut kawan-kawan developer untuk membantu pengembangan sistem Bawaslu.

Pak Ridwan Kamil, Walikota Bandung juga menawarkan hadiah bagi mereka yang membuat aplikasi pemilu khusus untuk warga Bandung. Sedangkan, masyarakat terutama dari kalangan developer menyambut baik dan antusias dalam menyebarluaskan gerakan open data dan open government ini. Seluruh developer bersedia untuk mempublikasi aplikasi mereka secara gratis ke publik.

Bagaimana rencana ke depan dari hasil hackathon ini?

Rencananya kami akan melakukan massive API Pemilu campaign, yaitu kampanye aplikasi-aplikasi via online dan offline. Untuk online, kami akan melakukannya via website dan media sosial. Sedangkan, via offline melalui penyebaran poster ke berbagai universitas di beberapa provinsi. Kami juga berencana menyelenggarakan Hackaton kedua sebelum Pemilu Presiden nanti.

Apa yang diharapkan dari penyelenggaraan pemilu dengan adanya berbagai aplikasi informasi pemilu?

Dengan adanya beragam aplikasi ini diharapkan masyarakat dapat benar-benar mengenal calon pemimpin mereka sebelum memilih. Jadi, tak lagi seperti memilih kucing dalam karung. Dengan informasi yang komprehensif dan mudah diakses juga diharapkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu juga akan meningkat. Dengan peningkatan partisipasi pemilh yang rasional dan cerdas diharapkan dari pemilu 2014 terpilih wakil-wakil rakyat yang berkualitas dan memiliki jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab yang besar. Karena pada dasarnya masyarakat Indonesia sudah trauma dengan berita buruk tentang para pemimpin yang ternyata terlibat korupsi atau skandal-skandal lainnya

Bagaimana caranya menjaring pemilih dalam melakukan voter education dari API Pemilu dan aplikasi informasi pemilu yang dimiliki Perludem ke depan?

Dalam jangka panjang kami akan terus melakukan voter education dan information. Cara yang paling efektif, yaitu menggunakan cara-cara terkini (tak konvensional), menarik dan menyenangkan (fun) terutama untuk anak muda.

Untuk API Pemilu sendiri kami akan  terus mengupdate database tak hanya dari Pemilu 2014 tetapi juga pemilu -pemilu sebelumnya. Kami juga membuat peta pemilu terpadu yang dapat memvisualisasikan berbagai proses penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

Load More Related Articles
Load More By Maharddhika
Load More In Wawancara
Comments are closed.

Check Also

Kaum Muda, Setelah Pemilu Berlalu

Diagungkan saat pemilu, (semoga tidak) dilupakan setelahnya. Milenial yang menjadi istilah…