Home Wawancara Diah Setiawaty: Apps Chalenge Pilkada Serentak 2015 untuk Pendidikan Pemilih

Diah Setiawaty: Apps Chalenge Pilkada Serentak 2015 untuk Pendidikan Pemilih

Comments Off on Diah Setiawaty: Apps Chalenge Pilkada Serentak 2015 untuk Pendidikan Pemilih
0
510

Dalam rangka menyambut Pilkada Serentak 9 Desember 2015, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) akan menyelenggarakan lomba “Pilkada Serentak Apps Challenge Code for Vote 4.0”. Lomba ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi publik, kususnya partisipasi developer dalam memanfaatkan data pilkada untuk diolah dalam bentuk aplikasi atau website.

Lomba ini akan dilangsungkan dari 28 Oktober-8 November 2015. Selain memperlombakan aplikasi untuk pendidikan pemilih, tema yang diperlombakan adalah aplikasi untuk pemilih disabilitas dan perempuan. Berikut wawancara jurnalis Rumah Pemilu, Debora Blandina Sinambela dengan Program Officer API Pemilu Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Diah Setiawaty.

Bisa dijelaskan tentang lomba ‘Pilkada Serentak Apps Challenge Code for Vote 4.0’?

Lomba ini pada dasarnya untuk membuka semua data-data KPU yang ada dalam format data terbuka. Kemudian data itu diolah untuk dibuat dalam bentuk API (Aplication Programming Interface) . Setelah datanya dibuka maka akan dibuat aplikasi maupun web berbasis android dan ios.

Setelah para developer membuat apps maupun aplikasi, mereka kita minta untuk mengirim karyanya lewat bit.ly/pilakdaserentak , serta mengisi formulir pendaftaran.

Apa yang menjadi tujuan pelaksanaan lomba ini?

Tujuannya utamanya tentu partisipasi masyarakat untuk pilkada dan bisa melakukan pendidikan pemilih lewat teknologi dengan bantuan para developer. Mereka akan membuat aplikasi, web atau cara lain yang bisa melibatkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilkada.

Kita berharap hasilnya akan semakin banyak aplikasi yang dihasilkan, seperti hackaton pertama dan kedua dalam pemilihan legislatif dan pemilihan presiden lalu.

Developer daerah kita undang untuk bisa submit. Meskipun lombanya diadakan di Jakarta, tapi aplikasi ini sebenarnya buat daerah. Yang tahu kondisi daerah kan developer lokal, kita berharap akan banyak developer lokal yang ikut sebab mereka yang paling tahu pilkada di konteks lokal.

Data apa saja yang bisa diolah para developer?

Data yang diolah bisa mencakup data calon kepala daerah, kemudian data tentang dana kampanye, sengketa pilkada, data pemilih. Khusus data untuk pemilih disabilitas akan dilombakan tema khsusus disabilitas.

Apa saja pertimbangan untuk menentukan pemenang?

Beberapa pertimbangan seperti user Interface dan user eksperience atau kemudahan seseorang dalam melihat aplikasi dan menggunakannya. Kemudian menarik atau enggak. Biarpun datanya kaya tapi kalau enggak menarik bisa saja pengguna jadi menggunakan. Kedua, soal kompleksitas teknis dari aplikasi atau website. Meskipun tampilan sederhana apakah didalammnya kompleks atau rumit akan ada penilaian tersendiri.

Ketiga, penggunaan data dari API Pemilu. Keempat, melihat keuntungan pemilih dan kesesuaian tema dengan aplikasi. Misalnya kalau mereka mendaftar untuk pemilih disabilitas dan perempuan apakah mereka bisa menggunakannya.  Kelima, ada spesial poin jika dilakukan target sasaran. Misalnya jika yang membuat aps disabilitas adalah disabilitas dapat poin 10 persen.

Ke enam, akan dilihat keberlangsungan aps ini setelah pilkada, apakah bisa digunakan untuk traking janji calon setelah pilkada.

Kapan waktu pelaksanaan lomba?

Pendaftaran akan dilakukan sejak 28 Oktober sampai dengan 4 November, kemudian tanggal 5 November kita akan umumkan 50 tim terbaik untuk diundang pada tanggal 8 November untuk presentasi semifinal dan final di KPU RI. Pengumuman pemenang akan dilakukan 10 November tepat di hari Pahlawan. []

Load More Related Articles
Load More By Maharddhika
Load More In Wawancara
Comments are closed.

Check Also

Inovasi dan Teknologi untuk Partisipasi Warga yang Melampaui Masa Pemilu

Berapa kamu mau dibayar untuk menghapus semua akun sosial mediamu? Liz Plank, seorang prod…