Home Liputan Khusus Ingin Hapuskan Diskriminasi, 35 Caleg Disabilitas Maju di Pemilu 2019

Ingin Hapuskan Diskriminasi, 35 Caleg Disabilitas Maju di Pemilu 2019

0
0
183

Anggota Pusat Pemilihan Umum Akses (PPUA) Disabilitas, Aprilsyah mengumumkan bahwa pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, sebanyak 35 disabilitas maju sebagai calon anggota legislatif (caleg). Angka ini stagnan dengan angka pencalonan disabilitas pada Pileg 2014, sebagaimana yang diklaim April sebanyak sekitar 35 disabilitas mencalonkan diri.

“Data kami, seluruh disabilitas yang pernah nyaleg dari 2004 sampai 2014, baik di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) maupun DPD (Dewan Perwakilan Daerah), memang lumayan. 2014 itu, sekitar 35 orang yang nyaleg, tapi perempuannya hanya 3 orang,” kata April pada diskusi “Caleg Perempuan, Disabilitas, dan Kelompok Masyarakat Adat: Alternatif Pilihan untuk Pemilih Golput” di D Hotel, Guntur, Jakarta Selatan (3/1).

Pada diskusi tersebut, April menyebut bahwa jumlah caleg disabilitas di Pemilu 2019 mencapai angka 50. Namun, berdasarkan data yang diberikan PPUA Disabilitas kepada Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dan diterima oleh rumahpemilu.org, hanya terdapat 35 caleg disabilitas yang tersebar di 15 partai politik peserta pemilu. Tak ada caleg disabilitas dari Partai Golongan Karya (Golkar).

“Pasca Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) 2017, PPUA sempat audiensi ke berbagai partai politik. Kita turun ke 13 partai, kita layangkan surat audiensi, dan mereka menerima kita. Setelah kita sampaikan materi-materi audiensi dan pemahaman ke partai, akhirnya terjadilah yang sekarang ini. Partai menggandeng tokoh-tokoh disabilitas di berbagai daerah,” terang April.

Tokoh-tokoh disabilitas yang maju pada Pileg 2019 merupakan aktivis disabilitas yang menyuarakan kepentingan disabilitas di berbagai organisasi disabilitas di seluruh Indonesia. Tiga di antaranya, Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), dan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

Berikut nama 35 caleg disabilitas di seluruh daerah pemilihan (dapil) DPR dan DPRD Daerah (DPRD) di Indonesia berdasarkan provinsi.

Provinsi Aceh

  1. Hamdanil Hanafiah, dapil DPRK Kota Banda Aceh 4, Partai Bulan Bintang (PBB), nomor urut 2.
  2. Ifwan Sahara, dapil DPRK Aceh Besar 3, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), nomor urut 1.

Provinsi Jawa Barat

  1. Aden Achmad, dapil DPRD Provinsi Jawa Barat 1, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), nomor urut 6.
  2. Irpan Rustandi, dapil DPRD Provinsi Jawa Barat 1, Partai Persatuan Indonesia (Perindo), nomor urut 4.
  3. Tanthy Tri Santinah, dapil DPRD Kabupaten Bandung 1, Partai Demokrat, nomor urut 3.

Provinsi Jawa Tengah

  1. Agus Priyanto, dapil DPRD Kabupaten Kebumen 4, PKS, nomor urut 3.
  2. Herwindo Tri Setia, dapil DPRD Kabupaten Purbalingga 1, Partai Perindo, nomor urut 4.
  3. Meita Evi Soraya Sally, dapil DPR RI Jawa Tengah 9, Partai Demokrat, nomor urut 7.
  4. Hasmiansah Daud, dapil DPRD Provinsi Jawa Tengah 7, Partai Demokrat, nomor urut 8.
  5. Slamet Widodo, dapil tak diketahui, PKS.
  6. Rumiyati, dapil DPR RI Jawa Tengah 3, Partai NasDem, nomor urut 6.

Provinsi Jawa Timur

  1. Sapto Yuli Isminarti, dapil DPRD Kabupaten Malang 7, Partai Beringin Karya (Berkarya), nomor urut 2.
  2. Surya Chandra, dapil DPR RI bagian Kota Malang, PSI, nomor urut 1.
  3. Osmiyati Afarindra Nurifai, dapil DPR RI Jawa Timur 2, Partai Amanat Nasional (PAN), nomor urut 6.

DIY Yogyakarta

  1. Anais, dapil tak diketahui, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
  2. Anggia Sari, dapil DPRD Kota, Partai NasDem, nomor urut 6.
  3. Nuning, dapil DPRD DIY 5, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), nomor urut 1.

Provinsi DKI Jakarta

  1. Dadan, dapil DPRD Provinsi DKI Jakarta 2, Partai Demokrat, nomor urut 4.

Provinsi Riau

  1. Muhammad Bakri, dapil DPRD Kabupaten Siak 3, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), nomor urut 2.

Provinsi Kalimantan Barat

  1. Abdul Aziz Nor, dapil DPRD Provinsi Kalimantan Barat 1, Partai Perindo, nomor urut 7.

Provinsi Kalimantan Timur

  1. Anni Juwariyah, dapil DPRD Provinsi Kalimantan Timur 1, PAN, nomor urut 7.
  2. Awang Farouk Ishak, dapil DPR RI Kalimantan Timur, Partai NasDem, nomor urut 1.
  3. Krisna Galih, dapil DPRD Kota Balikpapan, Partai NasDem, nomor urut 4.
  4. Yuliarti, dapil DPRD Kota Penajam 1, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), nomor urut 6.
  5. Ardiyansyah, dapil DPRD Provinsi Kalimantan Timur 1, Partai Demokrat, nomor urut 12.

Provinsi Sulawesi Selatan

  1. Takdir, dapil DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 2, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), nomor urut 3.
  2. Hasannuddin, dapil DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 2, PSI, nomor urut 6.
  3. Muhammad Yasin, dapil DPRD Kabupaten Bone 5, PPP, nomor urut 8.
  4. Aidil, dapil DPRD Kabupaten Pinrang 2, PSI, nomor urut 11.

Provinsi Sulawesi Barat

  1. Rahmad Samsuddin, dapil DPRD Kabupaten Mamuju 1, Partai Gerakan Perubahan Indoensia (Garuda), nomor urut 6.
  2. Rayu, dapil DPRD Kabupaten Mamuju Utara, PDIP, nomor urut 1.
  3. Antoni Hamdani, dapil DPRD Kabupaten Majene, PKB, nomor urut tak diketahui.

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)

  1. Nurlaili Ramdhani, dapil DPRD Kabupaten Sumbawa 2, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), nomor urut 7.

Provinsi Papua

  1. Herman Rumbekwan, dapil DPRD Kabupaten Supiori 2, Partai Perindo, nomor urut 7.

Provinsi Papua Barat

  1. Ferdinandus Ebit Koromath, dapil DPRD Kabupaten Manokwari 1, PDIP, nomor urut 6.

April mengimbau agar masyarakat membantu perjuangan kelompok disabilitas untuk mendapatkan nasib hidup yang lebih baik dengan memilih caleg disabilitas pada Pileg 2019. Kelompok disabilitas meyakini, dengan kehadiran perwakilan kelompok disabilitas di parlemen, kepentingan disabilitas akan terakomodasi dalam kebijakan-kebijakan.

“Apapun partai politiknya, caleg disabilitas pilihannya. Bantu kami untuk lepas dari diskriminasi yang selama ini kai terima, karena ketidakhadiran kami di parlemen,” tukas April.

Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraini, mendukung langkah yang ditempuh oleh kelompok disabilitas dalam memanfaatkan kesempatan pemilu untuk kehidupan yang lebih baik. Titi mengimbau kepada pemilih untuk memilih caleg disabilitas sebagai alternatif pilihan. Caleg disabilitas, seperti halnya caleg dari kelompok perempuan dan masyarakat adat, hadir membawa agenda politik untuk kesetaraan politik.

“Pemilu itu punya makna yang bisa menunjukkan ekspresi politik sebagai warga negara yang setara. Ketika kelompok disabilitas hadir ssebagai caleg, ini adalah alternatif pilihan. Ketika mereka hadir, mereka membawa agenda perbaikan. Kalau tidak memilih, pemilih memberatkan perjuangan teman-teman yang membutuhkan ruang untuk membuktikan kalau mereka mampu bersuara,” tandas Titi.

Load More Related Articles
Load More By AMALIA SALABI
Load More In Liputan Khusus

Check Also

Rapat Koordinasi, KPU Hanya Mampu Fasilitasi 3 Spot Iklan Kampanye

Kamis (14/2), Komisi Pemilhan Umum (KPU) RI mengadakan rapat koordinasi dengan peserta pem…