Home Liputan Khusus Memahami Kekerasan Pemilu di Indonesia

Memahami Kekerasan Pemilu di Indonesia

Comments Off on Memahami Kekerasan Pemilu di Indonesia
0
275

Di antara masih banyaknya pekerjaan rumah Indonesia mengenai perbaikan pemilu, “kekerasan pemilu” jadi salah satu yang belum baik ditangani. Sebagian dari kita bisa sangat bersemangat mengatur atau melaporkan secara pidana sejumlah bentuk pelanggaran pemilu tapi tidak untuk kekerasan pemilu. Menghina, salah ngomong, bahkan mengkritik secara langsung atau tak langsung bisa dipidana dan dilaporkan untuk penghukuman penjara. Pembiayaan politik (cost politic) tak bisa dibedakan dengan politik uang (money politic) atau korupsi politik (political corruption) sehingga paket makanan, uang transportasi, atau barang kampanye bisa dihukum penjara layaknya kekerasan pemilu.

Governance and Social Development Resource Center juga menjelaskan, secara umum, upaya sistemik penanganan kekerasan pemilu belum berjalan baik di penyelenggaraan pemilu negara berkembang. Pemantauan pemilu dan program pendidikan pemilih jarang dirancang semata-mata atau secara eksplisit untuk mengurangi kekerasan pemilu dan oleh karena itu biasanya tidak dicatat. Klaim pemantauan pemilu secara umum berkonsekuensi pada berkurangnya kekerasan pemilu, sulit untuk dibuktikan. Kekerasan pemilu merupakan masalah prinsipil dan kompleks tapi lebih banyak diatasi dengan penyederhanaan.

Kekerasan pemilu dan tren

Kekerasan pemilu (electoral violence) tidak sama dengan pelanggaran pemilu (electoral violation). Oxford Dictionary menjelaskan “violence” (kekerasan) lebih dekat dengan kejahatan pidana (criminal). Semua bentuk kekerasan bisa dipastikan sebagai tindak pidana tapi bukan berarti segala bentuk tindak pidana secara hukum (criminal law) merupakan kekerasan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan kata “kekerasan” menjadi tiga. 1 perihal (yang bersifat, berciri) keras; 2 perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain; 3 paksaan.

Sehingga, dari penjelasan makna kata tersebut disimpulkan, kerasan pemilu berarti tindakan yang menyebabkan cedera atau matinya seseorang atau rusaknya barang kepemilikan pribadi/publik atau anjaman/paksaan fisik/pembunuhan yang berkaitan dengan hak politik warga di konteks kepemiluan. Kekerasan ini terjadi bukan hanya dalam tahapan pemilu tapi juga pada tahap persiapan pemilu dan selesai tahapan pemilu, terutama terkait dengan pemenangan pemilu.

Dari pengertian itu, kekerasan pemilu bisa dikelompokan menjadi tiga. Pertama, kekerasan fisik yang berdampak pada luka atau kematian. Kedua, pengrusakan yang ditujukan kepada fasilitas publik (kantor KPU/Bawaslu, alat peraga kampanye penyelenggara, dan lainnya) atau ditujukan kepada kepemilikan pribadi (rumah, kendaraan, alat peraga individu calon, dan lainnya). Ketiga, ancaman, berupa ancaman kekerasan fisik atau ancaman pengrusakan.

Berdasarkan konsep tersebut, kita bisa memberikan sejumlah bentuk kekerasan pemilu sebagai contoh. Bisa jadi, ada bentuk kekerasan pemilu yang belum masuk pidana pemilu atau malah belum masuk bagian pelanggaran pemilu. Dan bisa jadi, ada bentuk kekerasan pemilu yang malah hukumannya lebih ringan dari bentuk pelanggaran pemilu.

Dalam bentuk peristiwa, kita bisa sebut cepat sejumlah bentuk kekerasan pemilu. Bentrok (fisik) antarpendukung calon atau partai politik. Tewasnya peserta kampanye dalam tembakan pengamanan massa. Pembakaran kantor penyelenggara pemilu atau partai politik. Ancaman dari militer terhadap suatu pilihan politik pada tahapan pemilu atau tempat pemungutan suara. Pengrusakan alat peraga kampanye (baik kepemilikan KPU maupun pribadi) di tempat dan waktu yang legal.

Di keadaan tak tertangani dengan baik, kompleksitas kekerasan pemilu punya dua kecenderungan yang menyebabkan meledaknya konflik hingga berdampak pada kematian yang masif. Pertama, konflik antara kekuatan petahana dengan oposisi yang melibatkan militer. Kedua, penyertaan identitas kelompok yang membelah massa yang disulut dengan ujaran kekerasan.

Di Dhaka, Bangladesh, pada Pemilu 2018, setidaknya 17 orang tewas karena kekerasan antara kekuatan petahana dengan oposisi. Di Togo, pada Pemilu Presiden 2005, diperkirakan 500 orang mati dan 20 ribu orang mengungsi karena petahana mengerahkan kekuatan militer untuk melawan oposisi. Di Kenya, belum reda dari duka tewasnya ribuan orang di Pemilu Presiden 2007, Pemilu Presiden 2017 yang menyertakan propaganda melalui Cambridge Analytica telah memecah belah etnis yang berdampak pada kematian warga secara masif.

United States Institute of Peace menyampaikan analisa Database Kekerasan Pemilu Afrika (AEVD) bahwa ada suatu tren kekerasan pemilu di banyak benua. Yang terbesar adalah Afrika. Berdasar penyelenggaraan Pemilu Afrika sub-Sahara pada rentang 1990 hingga 2008, terungkap bahwa terjadi tren peningkatan kekerasan pemilu. Ada 58 persen pemilu di Afrika yang terjadi kekerasan pemilu, mulai dari intimidasi dan pelecehan intensitas rendah hingga kekerasan berskala. Dan ada 10 persen yang menyebabkan kematian yang masif.

Di Indonesia

KEKERASAN PILKADA 2018

Papua:

  1. Pilkada Papua=3 tewas, penembakan penyanderaan di bandara, menyerang pesawat pembawa logistik.
  2. Pilkada Papua=3 tewas (2 polisi 1 camat Torere) diadang sipil bersenjata.
  3. Pilkada Memberamo Tengah=Pembakaran kantor KPU dan kantor Bawaslu (protes putusan MK).

Sumatera Selatan:

  1. Pilkada Empat Lawang 2018=1 tewas, sebagai tim sukses ditembak tim sukses peserta lain

Jawa Timur:

  1. Pilkada Jawa Timur/Kab Sampang=1 tewas (anggota PPS) ditembak temannya.

KEKERASAN PILKADA 2017

Papua:

  1. Pilkada Intan Jaya=4 tewas, 600 luka, 1 kantor KPUD dirusak, pendukung menunggu hasil pilkada yang ditunda.
  2. Pilkada Intan Jaya=Pembakaran Kantor KPU Intan Jaya.
  3. Pilkada Puncak Jaya=4 tewas (3 dipanah, 1 sesak nafas kerumunan berlari), 14 rumah warga terbakar, klaim kemenangan saat proses sengketa MK.
  4. Pilkada Kep. Yapen=Pembakaran kantor KPU Kep. Yapen, kecewa penyelenggara .

Sumatera Utara:

  1. Pilkada Simalungun=Ancaman Bakar dan Kekerasan Fisik terhadap KPU jika mencoret paslon.

DKI Jakarta:

  1. Habib Riziq Shihab “Bunuh Si Ahok Sekarang Juga”.

JUMLAH KASUS KEKERASAN PEMILU DI PILKADA 2018 & 2017

 

JUMLAH KORBAN KEKERASAN PEMILU DI PILKADA 2018 & 2017

 

KEKERASAN PEMILU BERDASARKAN TAHAPAN

Sebab Kekerasan Pemilu

Di negara-negara lain menurut United States Institute of Peace dan AEVD, kekerasan pemilu disebabkan oleh dua hal, sebagai berikut:

  1. kekuatan petahana yang melibatkan militer melawan oposisi;
  2. penyertaan identitas kelompok yang membelah massa yang disulut dengan ujaran kekerasan.

Sedangkan di Indonesia, kekerasan pemilu disebabkan oleh hal yang berbeda dari yang terjadi di negara lain. Ada tiga hal yang menjadi sebab kekerasan pemilu di Indonesia, yaitu:

  1. Situasi politik lokal berkaitan dengan kemerdekaan politik (Papua, dulu Aceh);
  2. Elite politik yang tak menerima proses dan hasil pemilu yang mengerahkan massa;
  3. Ketakpercayaan terhadap KPU atau KPU kurang berintegritas

Berdasar jumlah kekerasan pemilu dan korbannya, Papua merupakan daerah yang paling banyak terjadi kekerasan pemilu. Situasi politik lokal berkaitan dengan kemerdekaan politik menjadi sebab.

Apa yang terjadi di Papua sebelumnya terjadi juga di Aceh. Sumbatan aspirasi dan keterlibatan dalam kelembagaan politik menjadi sebab terjadinya kekerasan pemilu di Aceh.

Tapi, sejak penyampaian aspirasi, ekspresi, dan keterlibatan politik dibuka luas di Aceh, kekerasan pemilu berkurang signigikan. Sejak 2009 parpol lokal Aceh diakui secara hukum eksistensinya dan bisa ikut serta dalam pemilu untuk mendapatkan kursi kekuasaan DPRD provinsi dan kabupaten/kota.

Melalui Pemilu 2009, 2014, dan 2019, konflik di Aceh memang masih ada. Tapi, konflik hadir tak lagi menggunakan cara intimidasi, ancaman, pengrusakan, dan penembakan, karena motif kekuasaan khas lokal sudah difasilitasi melalui parpol lokal di pemilu dan parlemen. []

USEP HASAN SADIKIN

Load More Related Articles
Load More By USEP HASAN SADIKIN
Load More In Liputan Khusus
Comments are closed.

Check Also

Tantangan Presidensial Hasil Pemilu Serentak: Koalisi Mayoritas Tinggi Fragmentasi

Indonesia sudah melakukan pemungutan suara Pemilu 2019. Pemilu serentak pertama negara dem…