Home Opini Memahami Pemilih Milenial dan Pasca-Milenial

Memahami Pemilih Milenial dan Pasca-Milenial

0
0
646

Pemilu 2019 bisa dibilang sebagai pesta demokrasi elektronik (e-democracy). Para kontestan berlomba-lomba mendekati dan meyakinkan pemilih milenial dan pasca milenial. Bukan hanya karena populasinya yang cukup besar, tetapi juga karena keterampilan digital yang dimilikinya. Kaum muda pengakses internet mendominasi ruang publik media sosial. Opini publik bisa berubah-ubah bahkan dari satu opini dominan, pengkutuban, hingga menjadi beragam dari partisipasi dua segmen pemilih ini.

Dukungan elektoral mereka yang diekspresikan dan didiskusikan di ruang publik media sosial dapat menjadi kekuatan pemasaran politik (political marketing) para kandidat. Oleh karena itu, mereka berpotensi dapat mewarnai lanskap komunikasi politik elektoral Indonesia.

Siapa pemilih milenial dan pemilih pascamilenial? Seperti apa karakternya? Dua pertanyaan ini penting untuk tindaklanjut komunikasi politik, khususnya dalam pendidikan/kampanye pemilu.

Pemilih Milenial dan Pasca-Milenial

“Milenial” bukanlah sebuah istilah yang asing dalam politik elektoral Indonesia. Banyak pemberitaan, publikasi polling, dan bahkan studi ilmiah tentang milenial.

Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Neil Howe dan William Strauss (2000) dalam buku Millennials Rising: The Next Great Generation. Milenial dikenal juga sebagai Generasi Y, generasi me, atau echo boomers. Mereka adalah yang terlahir di rentang tahun 1982 – 1998. Artinya, saat ini di Pemilu 2019, mereka berusia 21 – 37 tahun.

Berbeda dengan dengan pendapat Howe dan Strauss (2000) tersebut, Michael Dimock (2019), Presiden Pew Research Center, mengemukakan bahwa milenial adalah mereka yang terlahir di tahun 1981 – 1996. Artinya saat ini, di Pemilu 2019, mereka berusia 23 – 38 tahun.

Menurut Hasanuddin Ali dan Lilik Purwandi (2017), dalam buku Millenial Nusantara, tiga karakteristik utama dari milenial yaitu kreatif (creative), terhubung (connetected), dan percaya diri (confidence).

Pertama, kreatif. Mereka mampu berpikir lateral (out-of-the box thinking). Buktinya mereka mampu mengembangkan industri rintisan (startup industry) dan industri kreatif lainnya. Kedua, terhubung. Internet sebagai media komunikasi utama mereka. Oleh karena itu, mereka disebut juga always-on generation. Melalui internet, khususnya media sosial, mereka memiliki tingkat sosiabilitas yang tinggi –bahkan medsoc addict. Dan ketiga, percaya diri. Dengan kepribadian ini, mereka berani atau secara ekspresif mengemukakan pendapat di depan publik, bahkan berdebat secara terbuka.

Selain karakteristik tersebut, mereka juga kritis (critical). Selain kebebasan politik yang sangat mendukung, sikap politik kritis milenial tersebut didukung oleh rasionalitas dan keberanian politik yang dapat diandalkan. Tentunya, rasionalitas politik tersebut didukung oleh literasi politik yang memadai, karena mereka rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang baik. Oleh karena itu, mereka secara terbuka dapat mengkritik gaya kampanye para kontestan elektoral.

Selanjutnya pemilih pascamilenial. Pada tahun 2016, Departemen Pelayanan Manusia dan Kesehatan Pemerintah Amerika Serikat dan Pew Research Center mengemukakan istilah pascamilenial (post-millenial). Atau yang dikenal istilah populer Generasi Z atau generasi yang terlahir pasca Generasi Y.

Statistics Canada menyatakan bahwa pascamilenial adalah mereka yang terlahir mulai tahun 1993, sedangkan menurut Michael Dimock (2019), mereka yang terlahir di rentang tahun 1997 – sekarang. Jadi dalam Pemilu 2019, mereka berusia 0-22 atau 0-26  tahun.

Mereka menggandrungi budaya pop (seperti musik K-pop) dan jurnalisme (khususnya journalisme warga). Tidak sekedar itu, menurut data Google Trends menunjukan bahwa Gen Z sangat aktif dalam pencarian informasi. Bahkan jika kita merujuk pada pemikirannya Marc Prensky (2001), mereka sebenarnya disebut sebagai Digital Natives (pribumi digital). Mereka yang akrab dengan bahasa digital komputer, permainan video, dan internet.

Merujuk pada deskripsi tersebut di atas dan berdasarkan pada  Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2019 yang ditetapkan oleh KPU RI pada tanggal 15 Desember 2018 sebanyak 192.828.520 pemilih, jumlah pemilih milenial dan pascamilenial sebanyak 53,81% dengan rincian, yaitu pertama, pemilih dengan usia di bawah 20 tahun sebanyak 17.501.278 atau sebesar 9,08 %; dan kedua, yang berusia di rentang 21-30 tahun sebanyak 42.843.792 atau sebesar 22,22%.; dan ketiga, yang berusia 31-40 tahun sebanyak 43.407.156 atau sebesar 22,51%.

Kekuatan elektoral mayoritas pemilih milenial dan pasca milenial yang luar biasa tidak hanya memenuhi target partisipasi Pemilu 2019 sebesar 77,5%, tetapi juga menentukan kualitas partisipasi elektoral yang berkorelasi pada pematangan demokrasi di Indonesia. Harapan menjadi negara demokrasi penuh (full democracy state) ada di mereka.

IDHAM HOLIK

Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat

Load More Related Articles
Load More By IDHAM HOLIK
Load More In Opini