Home Liputan Khusus Menjadi Relawan di Hari Pendaftaran Pemilih Nasional

Menjadi Relawan di Hari Pendaftaran Pemilih Nasional

Comments Off on Menjadi Relawan di Hari Pendaftaran Pemilih Nasional
0
629

Di bawah lengkung gapura Washington Square Park di kota New York, saya bertemu Jackie Lopez—mengenakan kaos bertuliskan VOTE dan memegang papan “Register to Vote Now.” Hari itu adalah hari yang cerah bagi para relawan turun ke jalan dan ruang-ruang publik untuk membantu orang-orang mendaftar. Baik itu sebagai pemilih pemilu lokal, pemilu pendahuluan, ataupun pemilu 2020.

Jackie Lopez adalah Koordinator divisi Diversity & Community sebuah organisasi masyarakat non-partisan bernama HeadCount. Organisasi ini membantu orang-orang muda mendaftar sebagai pemilih dan mempromosikan partisipasi aktif dalam demokrasi. HeadCount menyelenggarakan acara ini dalam rangka National Voter Registration Day pada 24 September 2019. Di hari ini, para relawan dari berbagai organisasi di Amerika Serikat turun ke jalan untuk menemui para pemilih yang mungkin belum terdaftar.

Memastikan orang-orang yang memenuhi syarat terdaftar sebagai pemilih tidak selalu mudah, terutama karena setiap negara bagian mempunyai aturan, prosedur, dan tenggat waktu yang berbeda-beda. Itu lah mengapa National Voter Registration diinisiasi pada tahun 2012: meningkatkan kesadaran nasional untuk mendaftar sebagai pemilih. National Voter Registration Day diselenggarakan setiap tahun pada hari Selasa minggu keempat di bulan September.

Berdasarkan laporan akhir yang rilis pada 2018, National Voter Registration Day mencatat rekor. Sebanyak 865,015 orang berhasil diregistrasi pada satu hari tersebut. Ada 204,234 pemilih yang diregistrasi oleh para relawan di lapangan dan 660,781 pemilih yang diregistrasi melalui platform digital. Di tahun yang sama, HeadCount sendiri mendaftarkan 15,513 pemilih melalui acara yang diselenggarakan di ruang-ruang publik maupun platform digital.

“Rekor hari ini adalah 20,” kata Jackie memotivasi relawan yang baru datang. Penjaringan pemilih ini dibagi tiga kerangka waktu dari jam 1 hingga jam 7 dengan masing-masing shift berdurasi dua jam. “20 orang dikumpulkan satu orang dalam satu shift,” kata Jackie meyakinkan.

Jackie mengajak saya ke satu titik dekat perpustakaan Elmer Holmes Bobst tak jauh dari Washington Square Park. Titik itu disebut “titik panas” karena di tempat itu ada banyak orang, tetapi tidak terlalu ramai. Area itu memungkinkan para relawan untuk menjaring orang lebih banyak untuk terdaftar sebagai pemilih. Mengidentifikasi “titik panas” adalah salah satu strategi untuk menjaring banyak orang. Strategi lain, Jackie menambahkan, adalah dengan menjadi orang yang terbuka mengajak orang berbicara dan memberi sebanyak mungkin informasi mengenai pemilu.

“Dekati dan libatkan orang untuk berbicara—jangan menunggu,” kata Jackie.

Saya mulai mendekati kerumunan dengan memegang papan klip dan mencegat beberapa orang dengan pertanyaan, “Apa kamu sudah terdaftar sebagai pemilih?”

Setelah beberapa orang hanya lewat begitu saja, akhirnya seseorang mau merespons pertanyaan saya.

“Saya mau mendaftar dan mengubah afiliasi partai saya,” katanya.

Itu adalah pengalaman pertama saya membantu orang mendaftar sebagai pemilih di pemilu Amerika Serikat.

HeadCount juga mengajak kaum muda untuk mendaftar melalui platform digital yang dinamai Voter Info Hub. Tidak hanya menyediakan platform untuk terdaftar sebagai pemilih, Voter Info Hub juga menyediakan informasi komprehensif mengenai pemilu berdasarkan regulasi yang berlaku di tiap-tiap negara bagian. Informasi tersebut antara lain adalah informasi tentang tempat pemungutan suara, surat suara, status pendaftaran pemilih, dan berbagai informasi lain yang berhubungan dengan pemilu.

Informasi pemilu, terutama informasi pendaftaran pemilih, yang berserak menjadi salah satu tantangan bagi pemilih muda, terutama pemilih yang baru pertama kali terlibat di pemilu. Perbedaan regulasi di tiap negara bagian membuat pemilih muda kesulitan memahami peraturan, prosedur, dan tenggat waktu pendaftaran pemilih. Sebagai contoh, pelajar yang terdaftar di alamat orang tua seringkali kesulitan mengurus pindah memilih. Di beberapa negara bagian, pindah memilih harus diurus di saat yang sama dengan pendaftaran pemilih. Negara bagian lain mempunyai tenggat waktu—90 atau 60 hari sebelum hari pemungutan suara. Beberapa negara bagian mewajibkan pemilih untuk mengurusnya sendiri dengan beberapa persyaratan dokumen.

Voter Info Hub dibuat untuk membantu pemilih muda mengakses informasi pemilu teragregasi berdasarkan negara bagian yang terjamin kebenarannya. HeadCount bekerja dengan musisi dan influencer untuk lebih memudahkan kaum muda masuk dalam isu pemilu.

Segala informasi yang ada di Voter Info Hub berasal dari tiga sumber. Pertama, informasi mengenai tanggal, tenggat waktu, dan prosedur berasal dari regulasi di setiap negara bagian. Kedua, platform ini memeriksa regulasi partai jika berkaitan dengan pemilu pendahuluan. Ketiga, platform ini mengumpulkan informasi dari pihak ketiga untuk memastikan informasi sesuai dengan regulasi yang berlaku dan ditampilkan dalam format yang mudah dipahami.

“Butuh waktu setahun untuk membangun Voter Info Hub. Tapi untuk terus memperbaharui info, menyesuaikan dengan regulasi yang mungkin berubah, saya tidak pernah bisa berhenti,” kata Tappan Vickery, Direktur divisi Voter Engagement HeadCount.

MAHARDDHIKA, Pengelola Rumahpemilu.org Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi

Tulisan ini adalah tulisan ketiga dari program magang di Spark Action—organisasi kaum muda yang berbasis di Brooklyn, New York, Amerika Serikat—atas dukungan US Department of State melalui program Community Solution Program. Simak tulisan pertama di sini dan tulisan kedua di sini.

Load More Related Articles
Load More By Maharddhika
Load More In Liputan Khusus
Comments are closed.

Check Also

Persoalan Kaum Muda dalam Politik adalah Akses, Bukan Apatisme

Kaum muda kerap dinarasikan sebagai generasi yang tidak peduli pada politik. Hal ini menja…