Home Opini Perempuan, Sexy Killers, Golput, dan Sejarah Hak Pilih

Perempuan, Sexy Killers, Golput, dan Sejarah Hak Pilih

0
1
228

Dalam sejarah perjuangan hak politik dan sudah pasti hak-hak lainnya, kepada perempuanlah patutnya kita berterimakasih. Hak politik dulu itu barang mahal. Tak mudah memperolehnya.

Jika bukan berdarah bangsawan atau ditakdirkan sebagai konglongmerat atau kebetulan lahir sebagai laki-laki, jangan harap mendapatkan hak pilih begitu saja. Apalagi untuk dapat hak untuk dipilih. Kalau kau bukan berkulit putih, bukan tuan tanah, bukan bangsawan, apalagi miskin maka untuk dapat hak pilih sebaiknya engkau tidur dan mulailah bermimpi. Hak pilih itu barang mahal.

Dan itu sebabnya, ingatlah pesan ini baik-baik, ketika perempuan memulai perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak adil perihal hak pilih warga negara, mereka melawan kekuasaan. Bukan cara mudah tapi dengan tangis dan darah. Dihina dan dilecehkan.

Kisah perjuangan itu dimulai dari ruang akademik. Bermula ketika Mary Wollstonecraft menulis, “Vindication of the Rights of Women” yang terbit pada 1792. Tulisan Wollstonecraft adalah kitab penting dimulainya langkah perjuangan hak pilih bagi setiap orang, khususnya perempuan.

Tulisan itu memulai pengaruhnya dalam gerakan kaum perempuan yang digagas oleh Elizabeth Cady Stanton dan Lucretia Mott dalam sebuah konvensi di New York, 1848. Mereka semua adalah perempuan aktivis yang juga berjuang untuk penghapusan perbudakan.

Teriakan yang sama juga bergema di Inggris dan Eropa agar hak pilih perempuan diberikan. Ketika Lydia Becker memulai kampanye hak pilih (suffrage) pada 1867 di Inggris, satu per satu perempuan berhati besi pejuang hak pilih (suffragist) kian bermunculan. Mereka angkat bendera ungu sebagai simbol perjuangan hak perempuan.

Lalu, para perempuan memenangkan pertarungan itu. Bukan perempuan elit saja yang terlibat tetapi juga diikuti perempuan dengan ekonomi terbatas. Ibu miskin, ibu rumah tangga, dan seluruh perempuan yang mengerti arti pentingnya hak pilih.

Perjuangan itu berdarah-darah dan penuh cemoohan. Apalagi para laki-laki baru pulang dari Perang Dunia I sehingga perempuan pejuang yang menutut hak pilih dituduh tidak nasionalis dan antipatriotik. Demi niat baik, para perempuan itu tak surut. Pada 1918 sebuah kemenangan dari perjuangan panjang akhirnya berhasil melalui sebuah pengesahan undang-undang perwakilan, perempuan berusia 30 tahun ke atas, siapupun dia termasuk ibu rumah tangga,  diberi hak pilih dalam Pemilu.

Jangan pernah lupakan perjuangan itu. Sebuah titik penting perjuangan hak pilih bagi setiap orang tanpa memandang ras, gender, agama, dan sisi minoritas yang dimiliki setiap warga negara. Perjuangan soal ini jauh lebih berdarah-darah lagi.

Jangan lupa dulu hak pilih juga merupakan perjuangan melawan penjajahan. Tidak hanya di Amerika saja yang menghendaki hak pilih bagi negeri jajahan dengan slogan “no taxation without representation,” tetapi pejuang Tanah Air juga berjuang hak pilih ketika penjajah Belanda menolak memberikan. Meski para pejuang tidak puas dengan pemerintah Belanda tetapi mereka tetap meminta hak pilih. Bagi mereka, hanya penjajah yang menghilangkan hak pilih warga.

Lalu, apa sebabnya hanya karena bingung dengan dua pasangan calon atau baru nonton film dokumenter “Sexy Killers”, engkau sudah hendak golput. Lupa rupanya hak pilih itu adalah salah satu perjuangan paripurna melawan kesewenang-wenangan. Film dokumenter Sexy Killers memang menawan tapi tanpa perjuangan hak pilih dan kebebasan berpendapat mungkin film itu tidak pernah ada. Jadi yang menjadi acuan harusnya perjuangan hak pilih, bukan film dokumenter.

Jika kau tidak puas dengan calon tidak berkualitas, maka berjuanglah agar calon itu muncul. Jangan ngambek dan tidak mau menggunakan hakmu. Jika tidak puas dengan kualitas para caleg, ayo ceburkan dirimu menjadi orang-orang baik di partai. Jangan berikan partai kepada pecundang yang berbicara serampangan. Apalagi nekat Golput dan membiarkan mereka kian “bernyanyi” sebagai wakil rakyat.

Meskipun Golput itu hak, bukan kewajiban. Tapi, hak Golput tidak pernah mengalir  dari darah perjuangan. Golput tidak perlu dikampanyekan karena itu menghina para suffragist. Para perempuan pejuang. Ibu-ibu demokrasi tahan banting. Mereka tidak melahirkan anak-anak demokrasi yang tidak menantang badai, apalagi yang tidur di hari pemilihan.

Demokrasi itu bukan soal kekecewaan saya dan anda, tapi soal sejauhmana kita berani mencoba sekali lagi berharap bahwa semua akan berlahan-lahan lebih baik di masa depan.

Marilah para pemimpi perubahan kita melangkah ke TPS untuk melakukan perubahan. Bukan untuk perubahan instant. Besok. Lusa. Atau, saat presiden petahana berkuasa kembali atau 2019 memang presiden baru duduk di singasana. Bisa jadi perubahan akan terjadi puluhan tahun ke depan tapi semuanya harus dimulai dengan partisipasi hari ini.

“Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world.” [Harriet Tubman]

Ayo, kita bermimpi bersama untuk Indonesia yang keren di masa depan. Kita mulai dengan melangkah ke TPS.

Salam Pemilu Bersih dan Damai! []

FERI AMSARI

Dosen Hukum Tata Negara & Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas

 

Load More Related Articles
Load More By FERI AMSARI
Load More In Opini