Home Liputan Khusus Netizen Perempuan Jauh dari Perbincangan Pilkada DKI

Netizen Perempuan Jauh dari Perbincangan Pilkada DKI

Comments Off on Netizen Perempuan Jauh dari Perbincangan Pilkada DKI
0
2,096

Situs voteyuk.id menginformasikan ketimpangan gender dari perbincangan Pilkada DKI 2017 di dunia maya. Netizen perempuan kurang dari 20% terlibat dari perbincangan dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta. Pegiat isu kesetaraan gender menilai, keadaan maya ini berkait dengan ketimpangan gender pada aspek politik yang juga terjadi di dunia nyata.

“Secara umum, ketertarikan netizen perempuan terhadap topik tentang politik memang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Di Pilkada Jakarta ini jadi terlihat,” kata inisiator voteyuk.id, Arfan Arlanda kepada rumahpemilu.org (18/4).

Voteyuk.id telah menarik data dari 582,288 pengguna twitter (Tweeps) secara acak. Dari para pengguna ini Voteyuk.id menarik 15,858,843 cuitan (tweets) per 18 Februari 2017 jam 15.25.

Konten laman Voteyuk.id salah satunya menampilkan data gender yang membincangkan tiap pasangan calon. Dari 209.227 total pengguna twitter yang membicarakan Ahok-Djarot, hanya 15% (31.644) perempuan yang terlibat. Artinya, lelaki  mendominasi sebanyak 85% (177.583).

Timpang gender lebih nyata bagi para Tweeps yang membincangkan Anies-Sandi. Dari 13.085 total Tweeps, hanya 2% (311) perempuan yang terlibat. Artinya, hampir semua Tweeps yang membincangkan Anies-Sandi merupakan lelaki.

“Sebetulnya, untuk pengguna twitter perbandingannya lebih merata dengan 49 persen perempuan, 51 persen lelaki . Tapi secara umum, aktivitas pengguna sosmed sebetulnya didominasi perempuan. Konon 80% pengguna aktif sosmed adalah perempuan,”  jelas Arfan.

Penjelasan Arfan bisa coba bandingkan pada lini masa masing-masing Tweeps. Pengguna medsos relatif imbang gender. Di konteks topik Pilkada DKI, yang mengomentari 80% lebih lelaki.

Ketua Kalyanamitra, Listyowati berkomentar, ketimpangan gender dan jauhnya perempuan dari politik terjadi di semua ranah dan semua tingkat kelas. Menurutnya, pendidikan yang diikuti perempuan pada umumnya tak menyertakan pemahaman gender dan kesadaran pemahaman diskriminasi.

“Pendidikan pun jauh dari pemahaman hak warga khususnya hak politik,” kata Listyowati kepada rumahpemilu.org (19/4).

Kalyanamitra sebagai lembaga perempuan di isu kesetaraan dan pemberdayaan melakukan pendampingan perempuan berhak pilih di Pilkada DKI Jakarta. Selain memberikan pemahaman gender dan kesehatan reproduksi, Kalyanamitra pun mendorong keterlibatan perempuan ke peran-peran politik publik.

“Ketika sudah mengalami pendampingan kami, para perempuan ini relatif berdaya. Tak hanya berani membicarakan politik pilkada tapi juga menolak politik uang,” kata Listyowati.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, pada 6 April 2017 menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua sebesar 7.218.254. Lelaki pemilih ada 3.610.079, sedangkan perempuan 3.608.201. Lelaki pemilih mula ada 11.220 sedangkan perempuan ada 10.403.

Partisipasi pemilih Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran pertama merupakan partisipasi pemilih tertinggi sepanjang pemilihan kepala daerah langsung diberlakukan di DKI Jakarta. Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta melansir pemilih Putaran Pertama Pilkada DKI 2017 sebanyak 77,1 % padahal sebelumnya pemilih Pilkada DKI selalu di bawah 70%. []

Load More Related Articles
Load More By USEP HASAN SADIKIN
Load More In Liputan Khusus
Comments are closed.

Check Also

Materi Presentasi Diskusi Pilkada 2020 Inklusif Disabilitas

Download Attachments File Downloads Inklusivitas Pilkada 2020 15 Materi inklusivitas pilka…