Februari 23, 2024
iden

Politik Gen Z

Generasi Z disebut sebagai pilar generasi emas pada 2045. Sensus 2020 mencatat jumlah penduduk Indonesia didominasi Generasi Z atau penduduk yang lahir pada kurun 1997-2012 dengan jumlah 75,49 juta jiwa atau 27,49 persen dari 270,2 juta jiwa total penduduk Indonesia.

Dalam hal politik, dulu Generasi Z dinilai memiliki kecenderungan enggan terlibat, bahkan malah bersikap apatis. Namun, hal itu berbeda dengan kondisi kekinian. Belakangan ini dapat dilihat para pemuda mampu memengaruhi opini publik lewat ruang digital, termasuk dalam dunia politik dan kebijakan.

Seperti yang dilihat baru-baru ini bagaimana seorang Gen Z mengkritik pembangunan infrastruktur di Provinsi Lampung. Ruang digital kemudian seketika dipenuhi para pemuda yang mampu memengaruhi opini dan kebijakan. Bahkan, akhirnya Presiden Joko Widodo langsung turun ke Lampung. Orang paling berkuasa di negara ini memastikan agar daerah tersebut ke depan mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di daerahnya.

Perspektif di kalangan umum, Gen Z di Indonesia sering dianggap sebagai remaja lugu terhadap situasi dinamika politik. Padahal, Gen Z memiliki cara berpolitik yang sangat berbeda dari gaya politik yang dianut oleh kakek-nenek bahkan orang tua mereka sendiri.

Untuk membangun kesadaran politik, Gen Z hanya perlu buka Instagram, nonton Youtube, menggali di Google dan menunggu broadcast atau di-invite ke grup Whatsapp dari nomor yang tidak dikenal. Tidak seperti generasi sebelumnya, yang pernah merasakan bersusah payah membeli koran, mencari informasi di berita televisi, menunggu sosialisasi politik dari pemerintah atau partai politik. Nyatanya sekarang, teknologi informasi membuat politik semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari para Gen Z.

Gen Z terbiasa dengan diskursus politik kesetaraan, keadilan, kebebasan, keberagaman, dan fenomena kosmopolitan. Hal tersebut mereka peroleh dari komedi, komik, film, lagu, meme, infografik dan produk kebudayaan popular lainnya. Secara langsung maupun tidak langsung, ini telah membentuk pemahaman mereka terhadap politik.

Perhatian politik Gen Z tidak seperti pendahulu mereka yang senang bicara tentang perdebatan ragam ideologi besar dunia. Gen Z di Indonesia punya cara sendiri yang unik, cair, dan kreatif dalam memodifikasi banyak hal, termasuk ideologi politik.

Sebagaimana mereka tidak suka mempertentangkan antara kapitalisme dan sosialisme, atau islamisme dan nasionalisme, atau yang lainnya. Bagi Gen Z, segala yang bertentangan dapat dikompromikan, dimoderasi, dikelola, dan dibawa santai.

Dapat dikatakan, Gen Z semakin tidak mengasosiasikan diri mereka terhadap gagasan ideologi politik tertentu. Ini berbeda jika dibandingkan dengan generasi baby boomers, Gen X, dan Gen Milenial yang masih mencoba melestarikannya.

Kekhawatiran Gen Z lebih kepada ragam isu yang aktual dibanding faktual. Maka tidak aneh jika kelompok ini lebih kritis terhadap gaya politisi ketimbang programnya. Mereka lebih peduli terhadap kebijakan yang viral dari pada yang esensial, lebih suka atraksi ketimbang sosialisasi. Dengan demikian, pamor partai politik  dapat diprediksi semakin tergerus dari tahun ke tahun jika tidak mencoba  beradaptasi dengan perilaku dan selera politik kontemporer Gen Z hari ini.

Mulai dari maraknya fake news, menguatnya politik identitas, pencitraan politik, saling sindir antar relawan, dan saling menjatuhkan antar politisi. Kesadaran politik Gen Z tumbuh dalam dikotomi politik yang ekstrim. Menariknya, ini malah membuat mereka lebih santai dan berimbang melihat perseteruan tersebut.

Gen Z menjadikan politik sebagai ajang senang-senang daripada pertempuran. Misalnya, terlihat dari munculnya sosok Aji Pratama, juara pertama lomba kritik DPR yang dapat menyampaikan kritik dengan menghibur. Aji merupakan cerminan dari Gen Z yang bersedia berpolitik dengan santai dengan membuat Fahri Hamzah hingga Hasto Kristiyanto tertawa terpingkal-pingkal bersamaan.

Dalam politik, Gen Z telah memilih memperjuangkan masalah seperti hak asasi manusia, lingkungan, dan isu-isu yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Mereka juga menggunakan media sosial dan platform daring lainnya dalam memperjuangkan pendapat mereka dan mempengaruhi opini publik yang berkembang. Media sosial adalah salah satu wadah yang cocok dan tepat bagi Gen Z untuk mengampanyekan kepeduliannya terhadap masalah sosial politik.

Pemanfaatan media sosial untuk sebuah gerakan politik dapat terlihat dalam #TanpaNamaKampus pada gerakan #ReformasiDikorupsi beberapa waktu lalu. Gen Z membuatnya sebagai sebuah gaya berpolitik baru. Hal ini serentak mementahkan segala asumsi bahwa Gen Z adalah generasi apolitis yang dapat melahirkan mentalitas instan.

Atlet pencak silat Hanifan Yudani Kusuma telah  melakukan pendidikan politik kepada publik dengan selebrasinya memeluk Jokowi dan Prabowo saat meraih medali emas di ajang Asian Games 2018. Momen itu membuat suasana politik menjadi sejuk seketika melalui pemuda 19 tahun saat itu. Di media sosial, semua orang memuji Hanifan yang dianggap  dapat mempersatukan Indonesia. Sebelumnya, semua orang sudah cukup jenuh dengan persaingan politik Pemilu Presiden 2014 dan 2019.

Melalui Hanifan dan sejumlah wajah politik Gen Z lainnya mendorong kesadaran kita, politik saat ini merupakan politik yang santai sejak dalam pikiran dan pergaulan. Kita sebut saja sebagai politik Gen Z. []

SUHENDAR M. SAID

Seorang ASN Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.