Sigit Pamungkas: KPU Perlu Bentuk Tim Cyber untuk Hadapi Pemilu 2019

Pada acara “Evaluasi Pelaksanaan Tahapan Pemilihan Gubernur Provinsi DKI Jakarta”  (26/7), Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia, Aditya Perdana, mengatakan bahwa telah terjadi perubahan metode dan strategi kampanye di Pilkada Serentak 2017. Pasangan calon (paslon) yang semula menitikberatkan kampanye di ruang terbuka, kini berkompetisi di ruang maya, yakni media sosial.

“Caci maki kampanye tumpah ruah di media sosial. Nah, pergeseran cara kampanye ini menjadi catatan penting. Bukan hanya di Pilkada DKI lalu, tapi untuk Pemilu 2019,” kata Aditya.

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI periode 2012-2017, Sigit Pamungkas, mengiyakan pendapat Aditya. Ia mengemukakan bahwa untuk menghadapi Pemilu Serentak 2019, KPU mesti membentuk tim cyber guna mengimbangi tim cyber yang dimiliki para peserta pemilu.

“Bagian sosialisasi KPU kewalahan menandingi kerja tim cyber perseta pemilu. Ke depannya, mungkin KPU perlu membentuk tim cyber untuk melakukan sosialisasi di dunia maya,” ujar Sigit.

Tim cyber, kata Sigit, dapat beranggotakan tim kreatif, tim kampanye, dan tim analisis kemasyarakatan. Tim cyber akan menyampaikan informasi-informasi kepemiluan sesuai dengan karakter pemilih.

“Tim cyber mesti paham demografi pemilih beserta karakter-karakter mereka.  Kalau generasi Y itu, bisa kampanye penidikan pemilih pake meme dengan bahasa yang asik di mereka,” kata Sigit.