Home Opini Kegagalan Rekrutmen Politik Parpol

Kegagalan Rekrutmen Politik Parpol

0
0
183

Kota Tangerang Selatan merupakan satu dari 270 yang menyelenggarakan Pilkada 2020. Benyamin Davnie-Pilar Saga (diusung Partai Golongan Karya dan Partai Persatuan Pembangunan), Muhammad-Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya), serta Siti Nur Azizah Ma’ruf-Ruhamaben (Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera) jadi tiga pasangan calon. Semuanya dari jalur partai politik.

Asumsinya, partai politik merupakan organisasi yang memperjuangkan nilai atau ideologi melalui struktur kekuasaan melalui pemilihan umum. Sigit Pamungkas dalam “Partai Politik: Teori dan Praktik di Indonesia”, mengutip Gallagher bahwa, “rekrutmen merupakan sebuah kebun rahasia politik yang hanya diketahui oleh internal partai itu sendiri.” Rekrutmen partai politik merupakan dapur partai politik untuk menyiapkan seseorang melanjutkan, merebut, atau mempertahankan sebuah kekuasaan.

Mempertahankan, merebut, atau melanjutkan kekuasaan di tingkat lokal dijelaskan pada UU 32/2004 tentang Pemerintah Daerah. Sebagai pemilu, pilkada bisa menjadi sebuah angin segar demokratisasi lokal. Kepala daerah jadi memiliki legitimasi yang tinggi dari masyarakat.

Namun, pilkada dalam praktik konteks Indonesia, juga memiliki sejumlah kekurangan mendasar. Biaya politik yang mahal, kontrol publik yang lemah, korupsi politik, dan politik uang. Semua kekurangan mendasar ini bertautan dengan menguatnya politik dinasti.

Rekrutmen partai politik untuk Pilkada Kota Tangsel sudah berjalan sejak 2019. PDIP pada awalnya membuka sebuah konvensi dalam menjaring calon. Hal demikian juga dilakukan Gerindra, PAN, dan PSI. Golkar, PKS, dan Demokrat jadi tiga partai yang tidak membuka konvensi melainkan berusaha mengusung calon kepala daerah/wakil kepala daerah dari internal kader partai politik.

Partai Solidaritas Indonesia melakukan rekrutmen secara terbuka. Melalui media sosial Youtube, PSI mendapat pendaftar bakal calon amat banyak, 35 peserta. Penjurian pun dilakukan secara transparan dan bisa diakses online melalui situs resmi PSI. Salah satu peserta rekrutmen PSI bernama Muhammad menjadi pemenang dalam rekrutmen calon kepala daerah ini.

Secara umum, rekrutmen yang dilakukan beberapa partai politik tidak sesuai dengan harapan publik. Ini tergambar khususnya pada direkrutnya Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Sara) sebagai calon wakil walikota untuk mendampingi Muhammad. Sara merupakan keponakan dari Menteri Pertahanan Indonesia sekaligus Pimpinan Tertinggi Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

PDIP pun merekomendasikan dan mengusung Muhammad sebagai calon. Pilihan pencalonan PDIP ini tak berdasar pada niat konvensi yang sebelumnya ditekankan Partai Banteng ini melalui mekanisme rekrutmennya.

Potensi keterpilihan Muhammad amat tinggi. Muhammad sebagai Sekda bisa dianggap punya pengalaman. Posisinya dalam struktur pemerintahan Kota Tangsel pun bisa mempengaruhi aparatur sipil negara, anggaran, program, dan fasilitas setempat yang bisa terhubung pada kerja-kerja pemenangan. Lalu, sebagai pemenang rekrutmen calon dari PSI, Muhammad menjadi lebih luas diketahui publik secara terbuka, khususnya bagi pemilih mula dan pemilih muda.

Selain Muhammad dan Sara, calon lain yaitu Pilar Saga dengan Siti Nur Azizah Ma’ruf pun menggambarkan rekrutmen yang tertutup dan tidak partisipatif. Pilar Saga sudah kental dengan latar belakang politik dinasti mantan Gubernur Banten. Ditambah, Siti Nur Azizah Ma’ruf yang merupakan anak dari Wakil Presiden Republik Indonesia yang sekarang menjabat, Ma’ruf Amin.

Karena wujud proses seperti itu, publik menganggap bahwa rekrutmen politik pencalonan Pilkada 2020 menjadi formalitas belaka. Partai politik inkonsisten dalam upaya membuka transisi kekuasaan dan kepemimpinan politik. Pencalonan kuat intervensi para elite partai politik dan kental dinasti politik.

Tiga pasangan calon ini bisa kita prediksi punya kecenderungan menghasilkan dinasti politik baru di tingkat lokal. Pilar Saga dari Partai Golkar yang merupakan keponakan dari mantan Gubernur Banten dan anak dari Bupati Serang akan menjadi pengganti dari Walikota Tangerang Selatan saat ini untuk melanjutkan dinasti di Kota Tangerang Selatan. Siti Nur Azizah Ma’ruf menghubungkan politik dinasti pusat ke daerah melalui masa jabatan yang beririsan. Pun begitu dengan Sara yang bisa menghubungkan kekuasaan pusat-daerah secara bersamaan dari Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan dan Sara sebagai wakil walikota.

Partai politik merupakan sebuah kendaraan pencapai kursi kekuasaan. Sifat fungsi ini sudah seharusnya dibangun secara demokratis. Upaya keterbukaan dan kebebasan sejatinya akan menjauhkan ragam bentuk intervensi berdasar kedekatan kekeluargaan.

Kualitas rekrutmen politik akan menggambarkan kualitas kepemimipinan dalam pemerintahan. Yang terpilih bukan hanya mendapat legitimasi pemilih tapi juga menghubungkan harapan.

Walaupun hubungan kekeluargaan tidak diatur dalam undang-undang, kita perlu mengantisipasi rekrutmen dan pemilihan pemipin politik. Jangan pemilu rentan menghasilkan para oligarki baru. Partai politik harus membuka rekrutmen dan memprosesnya secara partisipatif. Kriteria pencalonan dan pemilihan peserta dalam rekrutmen harus ditegakan secara ketat, bukan seremonial formalistik.

Rekrutmen harus dijalankan dengan proses yang panjang. Ini berlaku bagi partai kader dan partai non-kader. Keterbukaan internal oleh partai kader dan keterbukaan eksternal oleh partai non-kader akan mampu membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki kepala daerah yang berkualitas baik. []

NANDO DEI RAHMAN

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas

Load More Related Articles
Load More By NANDO DEI RAHMAN
Load More In Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.