Februari 24, 2024
iden

Menakar Komitmen Capres 2024 tentang Perbaikan Lingkungan

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dan Unity of Trend (UniTrend), generasi Z dan milenial dengan rentang usia 15-34 tahun banyak menganggap bahwa krisis iklim adalah hal yang nyata. Selain itu, 81% masyarakat Indonesia setuju pemerintah perlu mendeklarasikan kondisi darurat iklim, karena 60% masyarakat menilai pemerintah belum mampu merumuskan kebijakan yang dapat mencegah krisis iklim di Indonesia.

“Sayangnya, agenda dan kebijakan yang ditawarkan sebagai aksi dan mitigasi pasangan capres-cawapres terkait lingkungan dan perubahan iklim masih sangat normatif. Padahal pemilih yang didominasi oleh pemilih muda yang menganggap isu lingkungan adalah isu penting dan krusial,” kata Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute (TII), Putu Rusta Adijaya dalam diskusi “Perspektif Urgensi Aksi dan Mitigasi Perubahan Iklim Capres-Cawapres 2024” yang disiarkan langsung melalui channel YouTube TII (28/11).

Peneliti Senior dan Ekonom Bursa Efek Indonesia, Poltak Hotradero melihat visi-misi ketiga pasangan capres-cawapres banyak yang tergesa-gesa dan hanya menekankan pada hal-hal populis, namun banyak hal yang kontradiktif. Ia memberi contoh, semua pasangan mengatakan akan mengurangi gas rumah kaca, tapi di sisi lain dalam visi-misi yang lain masih ada program-program yang bersifat ekstraktif.

“Semua bicara soal ketahanan pangan, tapi fokusnya adalah memperluas lahan. Pasti yang akan dikerjakan adalah yang saat ini belum menjadi lahan pertanian, apalagi kalau bukan hutan,” kata Poltak.

Ia juga menyoroti soal hilirisasi, sebagai upaya untuk mengolah bahan mentah ke bahan baku. Padahal menurutnya, hilirisasi juga membutuhkan konsumsi energi yang sumber utamanya adalah batubara, jika demikian yang terjadi kemudian adalah mengurangi emisi tetapi yang ditawarkan adalah program yang menimbulkan emisi baru. Ia mengatakan, masalah Indonesia adalah ketergantungan pada batubara yang masih sangat besar, menurutnya perlu untuk melakukan terobosan baru karena cadangan energi yang dimiliki sudah tidak banyak lagi.

“Kita perlu lebih banyak melakukan diversifikasi atas sumber pangan kita, perlu memperkenalkan sumber pangan baru. Dengan cara itu kita bisa mengimbangi risiko yang mungkin dan pasti akan terjadi, dan bagaimana kita akan bertindak,” imbuhnya.

Menurut laporan “Emissions Gap Report 2023: Broken Record”, United Nation Environment Programme (UNEP) bulan September 2023 adalah bulan terpanas yang pernah ada. Hal itu melampaui rekor sebelumnya sebesar 0,5°C, dengan rata-rata suhu global sebesar 1,8°C diatas tingkat suhu pra-industrialisasi. Dalam laporan itu juga mencatat emisi gas rumah kaca (GRK) global pada tahun 2022 telah mencapai rekor di 57,4 gigaton CO2 ekuivalen (GtCO2e), naik 1,2% dari tahun 2021.

Poltak menyarankan program soal perubahan iklim dan keberlangsungan ekonomi perlu dibuat lebih jelas. Sampai aksi konkrit yang bisa diturunkan pada kelompok terkecil, yakni keluarga dan individu. Karena menurutnya, kelompok terkecil itulah penentu keberhasilan program ekonomi berkelanjutan.

“Bisa ditekankan misalnya, menghemat energi bisa berdampak luas pada ekonomi nasional. Tentu semua orang dengan senang hati akan melakukan itu, dengan cara seperti itu iklim kita bisa terselamatkan dari bencana,” ujarnya.

Selain itu perlu juga dibentuk iklim bisnis yang kompetitif bagi korporasi untuk berlomba-lomba bisa melakukan mitigasi atas perubahan cuaca sekaligus memperoleh manfaat moneter. Menurutnya, kalau hal itu bisa ditanamkan dengan baik hingga menjadi kesadaran, tentu ekosistem bisnis dengan suka rela juga akan menjalankan mekanisme yang sudah ditetapkan.

“Tak perlu kuatir karena bisnis lahir untuk bersaing. Bagi semua bisnis, yang diperlukan adalah juri yang fair. Melalui itu jadinya politik punya arah untuk memitigasi krisis iklim dengan dua arah; ke individu dan juga sustainability bisnis yang juga penting bagi ekonomi kita,” pungkas Poltak Hotradero.

Putu juga coba merinci visi misi calon presiden-wakil presiden Pemilu 2024.  Pasangan capres-cawapres nomor urut 1 dengan visi ‘Indonesia Adil Makmur untuk Semua’ tertuang misi untuk lingkungan yaitu, mewujudkan keadilan ekologis berkelanjutan untuk generasi mendatang. Dalam visi dan misinya, pasangan Anies-Muhaimin menjelaskan akan menetapkan batas emisi gas rumah kaca (GRK) untuk setiap sektor, meningkatkan perlindungan terhadap satwa langka dan yang terancam punah dengan penguatan regulasi, meningkatkan pendanaan dan komitmen bagi hutan lindung dan ekosistem di dalamnya, serta mempercepat transisi energi baru dan terbarukan dan penyediaan transportasi publik.

“Secara umum, keadilan dan kolaborasi menjadi dua hal yang ditekankan dalam visi-misi program pasangan AMIN,” ujarnya.

Sementara Pasangan Prabowo-Gibran dengan visi ‘Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045’, misi untuk lingkungan yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Lebih rinci menurut Putu, dalam memerangi pemanasan global dan perubahan iklim, Prabowo-Gibran berkomitmen untuk mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara, menghentikan perdagangan satwa liar dan tumbuhan langka serta mengupayakan konservasi, mendorong upaya restorasi, rehabilitasi, dan pemulihan lingkungan yang terdegradasi, serta memberikan hukuman berat bagi yang terlibat dalam pencemaran, perusakan lingkungan, dan pembakaran hutan.

“Pak Prabowo dan mas Gibran dalam visi-misinya cenderung menggunakan kata perintah, itu dapat diartikan sebagai mereka lebih mengutamakan program-program yang sudah dilaksanakan Presiden Jokowi,” kata Putu.

Dan pasangan Ganjar-Mahfud dengan visi ‘Menuju Indonesia Unggul: Gerak Cepat Mewujudkan Negara Maritim yang Adil dan Lestari’ komitmen terhadap lingkungan tertuang dalam misi; mempercepat perwujudan lingkungan yang berkelanjutan melalui ekonomi hijau dan biru. Pasangan Ganjar-Mahfud menawarkan upaya seperti program kampung sadar iklim (Kadarklim) dan upaya mengendalikan penangkapan ikan untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan laut.

“Selain itu pasangan nomor urut 3 juga berjanji akan memangkas polusi udara dari emisi kendaraan dan industri,” ujar Putu. []

AJID FUAD MUZAKI