Februari 23, 2024
iden

Tantangan Tagihan Agenda Politik dalam Kecairan Media Sosial

Terdapat pergeseran komunikasi politik dalam sosial media. Calon cenderung lebih menonjolkan politik keseharian dibanding politik selebritas. Bahasa yang disampaikan lebih ringan, lebih merangkul, dan aktivitas keseharian calon. Dalam pola komunikasi politik keseharian tidak ada unsur sangat politis yang hendak ditonjolkan.  

“Terjadi perebutan ruang dalam interaksi politik yang lebih cair di media sosial, yang muncul dalam tiga hal; interaksi melalui simbol, bahasa, dan visual. Dan narasi yang ada mencerminkan pembangunan branding dari calon tertentu,” ungkap Dosen Departemen Politik Pemerintahan Universitas Gajah Mada (UGM), Arga Imawan dalam diskusi “Iklan Politik di Media Sosial dan Transparansi Pendanaanya” yang digelar Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gajah Mada di BRIWork Fisipol UGM (8/12).

Arga juga menyebut ruang digital dalam aspek tertentu melahirkan tidak adanya sekat batas waktu kampanye. Temuan analisis Big Data CfDS menunjukkan pembangunan citra politisi peserta pemilu dilakukan setiap hari. Misalnya, frekuensi komunikasi politik kandidat capres Pemilu 2024 di ruang sosial media.

CfDS mencatat mulai 1 Januari 2014 sampai 8 Oktober 2023, Anies Baswedan aktif melakukan komunikasi politik sebanyak 4.700 cuitan di sosial media X (Twitter). Prabowo Subianto sejak 1 Oktober 2013 sampai 8 Oktober 2023 sebanyak 2.543 cuitan, sementara Ganjar Pranowo sebanyak 86.301 cuitan mulai 1 Januari 2014 hingga 8 Oktober 2023.

“Masalahnya, ketika pola komunikasi politik semakin cair, kita akan semakin sulit mendeteksi apa yang diharapkan oleh kandidat dan sulit mendeteksi nuansa kampanye politik di dalamnya,” ujar Arga. []