Home Liputan Khusus 7 Petahana di Pilkada 2018 Maju Lewat Jalur Perseorangan, Potensi Kemenangannya?

7 Petahana di Pilkada 2018 Maju Lewat Jalur Perseorangan, Potensi Kemenangannya?

Comments Off on 7 Petahana di Pilkada 2018 Maju Lewat Jalur Perseorangan, Potensi Kemenangannya?
0
1,259

Tujuh petahana kepala dan wakil kepala daerah mencalokan diri lewat jalur perseorangan di Pilkada 2018. Fenomena ini merupakan fenomena khusus, sebab pencalonan petahana di daerah-daerah lainnya mendapat dukungan antusias dari partai politik. Bahkan, majunya petahana kepala daerah di Prabumulih, Tapin, Mamasa, Tangerang, Kota Tangerang, Jayawijaya, Pasuruan, Minahasa Tenggara, Enrekang, Lebak, dan Bone, menyebabkan 11 daerah tersebut berpasangan calon (paslon) tunggal karena petahana memborong seluruh dukungan partai politik. Meskipun, untuk Lebak dan Bone, status Pilkada paslon tunggal masih menunggu putusan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Tujuh petahana kepala dan wakil kepala daerah dari jalur perseorangan yakni sebagai berikut.

  1. Bupati Lombok Timur, Mochamad Ali bin Dachlan, calon gubernur di Pilkada Provinsi Nusa Tenggara Barat.
  2. Bupati Luwu, Musakkar, calon wakil gubernur di Pilkada Provinsi Sulawesi Selatan (Sulses).
  3. Bupati Talaud, Sri Wahyuni Maria Manalip, calon bupati (cabup) di Pilkada Kepulatan Talaud.
  4. Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto, calon wali kota (cawalkot) di Pilkada Kota Makassar.
  5. Wakil Wali Kota Pagar Alam, Novirdzah Djazuli, cawalkot di Pilkada Kota Pagar Alam.
  6. Wakil Wali Kota Kotamobagu, Jainuddin Damopolii, cawalkot di Pilkada Kota Kotamobagu.
  7. Wakil Bupati Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Siska Salindeho, cabup di Pilkada Kepulauan Sitaro.

Ali bin Dachlan berpasangan dengan Tgh. Lalu Gede Muhamad Ali Wirasakti Amir Murni, Rektor Universitas Nadhlatul Wathan Mataram yang pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTB dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Harta kekayaan total paslon ini mencapai 107,5 miliar rupiah.

Musakkar digandeng oleh Ichsan Yasin Limpo, Bupati Kabupaten Gowa dua periode (2005-2015) yang merupakan adik kandung Gubernur Sulsel dua periode, Syahrul Yasin Limpo. Jika paslon ini menang, jabatan gubernur Sulsel diteruskan kepada dinasti Limpo. Harta kekayaan keduanya yakni 28,8 miliar rupiah.

Lalu, Maria Manali, Bupati yang pernah dinonaktifkan selama tiga bulan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) karena pergi ke luar negeri tanpa izin kepada Kementerian, melangkah bersama Capt. Gunawan Talenggoran, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kepulauan Talaud. Total harta kekayaan, 3,7 miliar rupiah.

Pasangan Ramdhan Pomanto yaitu Indira Mulyasari Paramastuti Ilham, Wakil Ketua DPRD Kota Makassar dari Fraksi Partai NasDem. Harta kekayaan berdua, 81,1 miliar rupiah.

Novirdzah maju bersama Suharindi SJ, mantan politikus Partai Amanat Nasional (PAN) yang berprofesi sebagai pengusaha properti. Paslon ini memiliki harta kekayaan 2,6 miliar rupiah.

Jainuddin berpasangan dengan Suharjo Makalalag, pembantu Pimpinan di Sekretariat Daerah Kabupaten Bolmong. Suharjo pernah menjadi narapidana kasus korupsi Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa (TPAPD) pada tahun 2009-2010 saat ia menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Suharjo dipenjara selama satu tahun. Harta kekayaan keduanya adalah 5,8 miliar rupiah.

Siska mengambil Heronimus Makainas sebagai calon wakil bupatinya. Heronimus merupakan Wakil Ketua DPRD Sitaro dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar). Harta kekayaan paslon ini yakni 3,6 miliar rupiah.

Peluang kemenangan calon perseorangan

Jika melihat perolehan hasil Pilkada Serentak 2015 dan 2017 di website infopemilu.kpu.go.id, paslon perseorangan yang memenangkan suara rakyat memiliki latar belakang petahana, mantan kepala daerah, anggota atau ketua DPRD, pegawai negeri sipil (PNS), tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh kuat, dan pengusaha sukses.

Pada Pilkada 2015, dari sepuluh paslon perseorangan yang menang, dua di antaranya merupakan petahana. Dadang M. Naser, petahana Bupati Bandung. Jimmy Feidie Eman, petahana Wali Kota Tomohon.

Pada Pilkada 2017, hanya tiga paslon perseorangan yang memenangkan kandidasi. Tak ada latar belakang petahana yang menang. Namun, perlu diketahui, penulis tidak memeriksa keberadaan petahana paslon perseorangan. Tiga paslon perseorangan yang menang merupakan mantan bupati, pengusaha sukses, dan mantan Wakil Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Di Pilkada 2018, 7 petahana dari jalur perseorangan akan mengadu modal politik, modal sosial, dan modal ekonomi dengan paslon lain, baik dari sesama jalur perseorangan maupun dari jalur partai. Paslon yang memiliki latar belakang sebagaimana disebutkan di atas memiliki peluang kemenangan yang cukup besar. Rekam jejak dan kinerja petahana dapat menjadi modal politik atau sandungan politik. Masyarakat diharapkan aktif mengkritisi.

Load More Related Articles
Load More By AMALIA SALABI
Load More In Liputan Khusus
Comments are closed.

Check Also

MPI Minta Timsel Berkomitmen Penuhi Keterwakilan Perempuan di KPU dan Bawaslu

Tim Seleksi (Timsel) calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawasan Pemili…