Fraksi Partai Gerindra dan Partai NasDem Pilih Sistem Proporsional Terbuka

Sistem pemilu, antara proporsional terbuka dan tertutup, tengah diperdebatkan. Bahkan, pilihan sistem pemilu menjadi salah satu isu yang akan divoting oleh Panitia khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu.

Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), pada seminar “Menuju Pemilu yang Berkualitas dan Berintegritas (Partai Besar versus Partai Kecil)” di Senayan, Jakarta Selatan (27/4) mengatakan bahwa pihaknya menyetujui sistem proporsional terbuka. Anggota Fraksi Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria, menilai sistem proporsional terbuka merupakan pilihan terbaik yang memberikan kedaulatan kepada rakyat untuk menentukan wakil di parlemen. Domain partai dalam politik kekuasaan mesti dibatasi.

“Kedaulatan rakyat sesungguhnya sudah banyak diambil oleh partai politik. Rakyat hanya menentukan satu dari pilihan-pilihan yang diajukan oleh partai. Jadi, bagi Gerindra, sistem (proporsional) terbuka masih yang terbaik,” tukas Riza.

Hal senada diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Syarif Abdullah. Dalam konteks pemilu nasional, seperti halnya pemilihan presiden, rakyat mesti diberikan hak untuk memilih langsung wakil pilihannya di pemilihan legislatif. Rakyat berhak memilih calon berdasarkan preferensi masing-masing, bukan semata-mata mengikuti kehendak partai.

“Fraksi NasDem ingin terbuka karena presiden juga dipilih langsung oleh rakyat. Kami tidak ingin rakyat seperti membeli kucing dalam karung,” tegas Syarif.