Home Liputan Khusus Percobaan Internet Voting di Rusia

Percobaan Internet Voting di Rusia

0
0
136

September 2021, Rusia akan menggelar Pemilihan Anggota Parlemen pertama dengan remote election voting di enam wilayah. Remote election voting, menurut definisi Undang-Undang (UU) Federal No.154 merupakan pemungutan suara tanpa menggunakan kertas, melainkan perangkat lunak khusus. Dalam terminologi dan jenis teknologi pungut hitung internasional, remote election voting yang digunakan di Rusia merupakan internet voting atau i-voting. Sebagaimana i-voting pada umumnya, melalui remote election voting, pemilih dapat memilih dari lokasi mana pun pemilih berada dengan menggunakan ponsel pintar, laptop, atau tablet pribadi.

Remote election voting jenis teknologi i-voting (dan akan ditulis dengan i-voting pada kalimat-kalimat selanjutnya) di Rusia merupakan salah satu dari empat metode yang tersedia. Tiga metode lain yang tersedia yakni pemberian suara di TPS dengan kertas suara, pemberian suara lewat pos, dan pemilihan dari rumah dimana petugas pemungutan suara akan mendatangi rumah pemilih dan memberikan surat suara.

I-voting merupakan bagian dari upaya digitalisasi pemilu yang telah dimulai sejak 2018 dan mulai diterapkan di Rusia setelah adanya amandemen konstitusi dan pengesahan Undang-Undang Federal No.154 pada 23 Mei 2020. UU ini memperkenalkan opsi pemungutan suara melalui pos, pemungutan suara elektronik jarak jauh di semua tingkat pemilihan, serta pemungutan suara di luar tempat pemungutan suara (TPS), yakni di ruang publik terbuka seperti taman bermain dan tempat parkir mobil. UU ini juga mengatur mengenai pengumpulan tanda tangan elektronik untuk pencalonan kandidat pemilihan kepala daerah, sehubungan dengan situasi pandemi.

I-voting di All-Russia Vote 2020

Dari laporan Iuliia Krivonosova yang dipublikasi oleh International IDEA (2020), i-voting pertama kali diuji coba di Rusia pada Pemilihan Deputi Duma atau parlemen Kota Moskow 2019. Kemudian diterapkan secara resmi pada pemilihan All-Russia Vote 2020 di masa pandemi untuk Kota Moskow dan Kota Nizhny Novgorod dengan lebih dari 10 juta pemilih. All-Russia Vote adalah sebutan untuk kegiatan pemberian suara yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran pendapat publik mengenai perubahan konstitusi (tidak bersifat menentukan apakah perubahan terhadap konstitusi dilakukan atau tidak, melainkan hanya untuk menunjukkan legitimasi terhadap suatu perubahan konstitusi).

Di All-Russia Vote 2020, layanan i-voting disediakan selama periode pemilihan awal atau early voting pada 25 hingga 30 Juni. Untuk Moskow, layanan i-voting dibuka sejak pukul 10 pagi, sementara di Kota Nizhny Novgorod, dibuka sejak pukul 2 siang. Terdapat 1.051.155 pemilih yang diizinkan untuk memberikan suara melalui i-voting. 93 persennya menggunakan surat suara elektronik atau e-ballot. I-voting di kedua kota ditutup pada 30 Juni pukul 8 malam.

Untuk dapat memberikan suara melalui i-voting, pemilih harus mengidentifikasi diri dalam dua langkah. Pertama, otentikasi di portal web 2020og.ru. Kedua, konfirmasi identitas melalui verifikasi SMS. Sistem i-voting yang dibangun tak menyediakan pilihan untuk pemberian suara ulang dan tak ada fitur yang memungkinkan pemilih untuk memverifikasi suara yang diberikan.

“Pemilih bisa memilih dari mana saja. Mereka biasanya pakai mobile phone. Tinggal daftar, terima email konfirmasi pendaftaran, klik link, memilih, lalu kirimkan pilihan. Mudah sekali,” ujar anggota CEC Rusia, Pavel Andreev pada kegiatan “Roundtable on Elections and Technology” 20 Juni 2021.

I-voting di Rusia dikembangkan oleh Departemen Teknologi Informasi Moskow dengan bantuan Kaspersky Lab (presentasi Evgeny Barkof pada kegiatan “Roundtable on Elections and Technology”) dan Waves Enterprise. Kaspersky Lab sendiri merupakan perusahaan perintis keamanan siber internasional asal Rusia. Sementara Waves Enterprise merupakan pengembang platform blockchain di Rusia untuk penggunaan perusahaan dan pemerintah. I-voting dibangun dengan platform blockchain pribadi, Exonum, yang diklaim sangat aman sekaligus mampu menjaga anonimitas pilihan pemilih.

“Kami menggunakan teknologi blockchain sehingga bisa dipastikan seratus persen aman dan sistemnya tidak bisa diretas. Anonimitas pilihan pemilih juga terjamin melalui sistem transparansi kripto algoritma,” tandas Barkof.

Sebelumnya, di 2019, i-voting diselenggarakan di dalam portal e-government, namun di 2020, i-voting diakses melalui portal web yang dibuat khusus, yaitu 2020og.ru. I-voting juga diterapkan pada pemilihan pendahuluan  Pemilihan Anggota Parlemen Nasional untuk wilayah Kursk dan Yaroslavl pada September 2020.

I-voting di 6 wilayah Rusia untuk Pemilihan Anggota Parlemen 2021

Jika pada kegiatan All-Russia Vote i-voting hanya disediakan untuk pemilih di dua kota, pada Pemilihan Anggota Parlemen 19 September 2021 Central Election Commission (CEC) Rusia mempersiapkan agar layanan i-voting tersedia bagi pemilih di enam wilayah Rusia. Terdapat total 84 wilayah di seluruh federasi Rusia dan telah dilakukan uji coba di seluruh wilayah tersebut pada 12 hingga14 Mei 2021. Pemilihan Anggota Parlemen 2021 akan diselenggarakan selama tiga hari.

“Sebulan lalu, kami melakukan uji coba di seluruh wilayah Rusia. Dari lokal sampai nasional juga dilakukan. Ketertarikan pemilih untuk mencoba i-voting cukup signifikan. Ada ratusan ribu orang sampai 1 juta yang berpartisipasi dalam uji coba. Jumlah ini bahkan melebihi ekspektasi kami,” jelas Pavel.

Untuk mengikuti uji coba i-voting yang akan diterapkan pada Pemilihan Anggota Parlemen 19 September 2021, warga harus mengajukan aplikasi pendaftaran di portal Gosuslugi.ru. Portal ini merupakan portal resmi layanan publik Pemerintah Rusia.

Berbeda dari i-voting 2020, i-voting yang akan digunakan di 2021 telah memungkinkan pemilih untuk memilih melalui i-voting sepanjang hari sebelum pemungutan suara ditutup dan mengubah pilihan. Jadi, layanan i-voting akan dibuka mulai jam 8 pagi tanggal 17 September dan ditutup jam 8 malam tanggal 19 September. Pemilih dapat memberikan suaranya melalui web mos.ru dan mengubah pilihan pada waktu tersebut. Catatannya, surat suara elektronik hanya akan dapat diberikan kembali tiga jam setelah pemilih memberikan suara.

Berbeda juga dari 2020, pemilih yang telah mendaftarkan diri untuk memilih secara online pada 2 Agustus hingga 13 September pun tak dapat beralih ke metode pemberian suara langsung di TPS. Namun, pemilih dapat mendatangi TPS untuk memilih melalui komputer yang disediakan di TPS.

Kepercayaan masyarakat terhadap i-voting

Alena Epifanova, Research Fellow pada International Order and Democracy menulis di dgap.org mengenai kekhawatiran banyak orang di Rusia atas penerapan i-voting di enam wilayah pada Pemilihan Anggota Parlemen  2021. Pasalnya, pertama, sistem i-voting belum seratus persen sempurna empat bulan jelang pemungutan suara. Bahkan, Mei, uji coba terhadap i-voting masih dilakukan, dan masih terdapat masalah pada sistem. Terdapat kasus aplikasi registrasi pemilih tertolak oleh sistem lantaran sistem tak dapat memverifikasi data pribadi pemilih. CEC juga belum membuat sistem yang mencegah pemilih memilih dua kali, yaitu di TPS dan melalui i-voting.

Kedua, pengembang i-voting adalah lembaga negara dan perusahaan yang didukung oleh negara. Server untuk data i-voting pun menggunakan server negara. Hal ini menimbulkan kecurigaan publik akan manipulasi pemungutan suara oleh negara. Apalagi, dengan terkonsentrasinya seluruh proses pemungutan dan penghitungan suara secara digital, pemantauan pemilihan independen akan semakin sulit dilakukan.

Ketiga, minimnya ruang partisipasi publik dan pemantau pemilu terhadap sistem i-voting. Asosiasi pemantauan pemilihan di Rusia, Golos mengatakan bahwa pemantau dan pengamat teknologi tak diizinkan untuk mengunduh transaksi blockchain dari situs web i-voting sehingga tak dapat dilakukan evaluasi integritas pemilihan.

Diakui oleh Andreev Pavel, anggota CEC Rusia bahwa adopsi teknologi pungut hitung baru bukanlah hal mudah. Teknologi harus terjamin akurasi dan keamanannya, serta melindungi kerahasiaan suara pemilih. Adopsi teknologi juga memerlukan waktu panjang, baik untuk mempersiapkan teknologinya maupun membiasakan penyelenggara pemilu dan pemilih untuk menggunakan teknologi tersebut. Di Rusia, teknologi pemilu merupakan isu yang disorot oleh publik seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pemilu yang bebas dan adil.

“Tentu ini tantangan yang tidak mudah. Teknologi harus andal, akurat. Ada kesadaran yang semakin tumbuh mengenai teknologi yang bisa dipercaya,” tutup Pavel dalam diskusi “Roundtable on Elections and Technology”.

Load More Related Articles
Load More By AMALIA SALABI
Load More In Liputan Khusus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Check Also

10 Anggota DPR RI Ini Telah Duduk di DPR RI Sejak 1999 (Bagian Dua)

Selain Muhaimin Iskandar, Irmadi Lubis, Trimedya Panjaitan, M Guruh Irianto Sukarno Putra,…