Home Wawancara Ari Nurcahyo: Pilpres 2019 Bisa Dua atau Tiga Paslon

Ari Nurcahyo: Pilpres 2019 Bisa Dua atau Tiga Paslon

Comments Off on Ari Nurcahyo: Pilpres 2019 Bisa Dua atau Tiga Paslon
0
812

Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo, menggambarkan prediksi koalisi pencalonan presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Karena Mahkamah Konstitusi (MK) memutus ambang batas pencalonan presiden konstitusional, maka koalisi yang mungkin terbangun paling banyak hanya tiga. Berikut penjelasan Ari dalam bentuk wawancara.

Bagaimana bursa pencalonan presiden di Pilpres 2019? Apakah publik akan disuguhkan dua kandidat yang sama seperti pada Pilpres 2014?

Koalisi untuk 2019 itu final round bagi dua kubu besar, yakni kubu Joko Widodo (Jokowi) dan kubu Prabowo Subianto. Jokowi berharap bisa dua periode dan Prabowo masih ingin jadi presiden. Tapi mungkin, akan ada poros ketiga yang diinisiasi oleh Demokrat. Pada Pilpres 2014 lalu, Demokrat tidak berpihak baik pada Jokowi maupun Prabowo.

Jokowi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Prabowo dari Partai Gerakan indonesia Raya. Partai Demokrat akan mengusung siapa?

Sangat mungkin mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Lalu, bagaimana posisi tujuh partai parlemen lainnya? Partai apa mendukung kubu mana?

Untuk memprediksi peta koalisi, siapa ikut poros mana, kita bisa melihatnya melalui tiga peristiwa politik. Pertama, koalisi pada Pilpres 2014. Di kubu Jokowi ada PDIP, Partai NasDem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Di kubu Prabowo yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golongan Karya (Golkar), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Kedua, persebaran dukungan partai terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Undan-Undang (Perppu) Organisasi Masyarakat (Ormas). Ada tiga kubu yang terkanalisasi. Kubu yang menolak, Partai Gerindra, PKS, dan PAN. Kubu yang mendukung, PDIP, Golkar, NasDem, dan Hanura. Kubu yang menerima dengan catatan, Demokrat, PPP, dan PKB.

Ketiga, melalui peta koalisi di Pilkada Serentak 2017. Meskipun yang terjadi di daerah tidak terkait langsung dengan Pilpres 2019, tapi bisa jadi acuan pembacaan. Saya ambil pembagian koalisi di Pilkada Jawa saja.

Secara umum, ada 7 partai pendukung Jokowi, yakni PDIP, Golkar, NasDem, Hanura, PPP, PKB, dan 3 partai pendukung Prabowo, yakni Gerindra, PAN, dan PKS.

Di Jawa Tengah, ada dua pasangan calon (paslon). Di kedua koalisi, ada partai-partai pendukung Jokowi, sementara partai-partai pendukung Prabowo terkonsentrasi di paslon Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Di Jawa Barat, dari empat paslon, tiga paslon diusung oleh partai-partai pendukung Jokowi dan satu paslon diusung oleh pendukung Prabowo. Ridwan Kamil pro Jokowi, Dedi Mulyadi pro Jokowi, Dedi Mizwar beberapa sikapnya pro Pemerintah, Hasanuddin jelas pendukung Jokowi karena dari PDIP, dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu dari PKS, pendukung Prabowo.

Di Jawa Timur, dua paslon. Barisan pendukung Jokowi terpecah, tapi di dua paslon ini semuanya ada partai pro Jokowi. Jadi, siapapun yang menang, pro Jokowi.

Kalau dilihat dari penjelasan Bapak, nampaknya sudah muncul koalisi pendukung Jokowi di Pilkada, meskipun koalisi itu didorong oleh pragmatisme. Sebetulnya, apa saja yang menjadi faktor penentu peta politik di Pilpres yang mungkin bisa merubah peta politik di 2019?

Pertama, poros partai. Kedua, poros figur. Ada 5 figur penentu, yaitu Jokowi, Megawati Soekarno Putri, Jusuf Kalla, Prabowo, dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Figur-figur ini akna menentukan poros koalisi di 2019. Ketiga, figur latar. Yang hari ini cukup mendominasi bursa ada AHY, Muhaimin Iskandar dari PKB, dan Anies Baswedan. Mereka akan memengaruhi pola komunikasi politik.

Soal perubahan peta koalisi, saya memprediksi ada dua skenario. Pertama, dua paslon, yakni Jokowi versus Prabowo. Koalisinya, 7 partai versus 3 partai. Kedua, tiga paslon, yaitu Jokowi, Prabowo, dan calon ketiga yang dimunculkan oleh Demokrat. Koalisinya, 4 partai versus 3 partai versus 3 partai.

Jadi, Demokrat menjadi satu-satunya partai yang berpotensi memunculkan partai calon presiden ketiga?

Ya. Tiga figur latar yang sudah saya sebutkan tadi akan dimunculkan sebagai pilihan ketiga.. Kemungkinan paling besar oleh Demokrat seperti di Pilkada DKI Jakarta, dia ingin menginisiasi poros ketiga.

SBY akan memainkan peran poros ketiga. Mungkin tidak punya target mennag, tetapi ini panggung prestisius untuk lompatan politik ke 2024.SBY, saya pikir, ingin AHY mengisi posisi wakil presiden atau menteri.

Jadi, mungkin, AHY akan dipasangkan dengan Muhaimin Iskandar atau Anies Baswedan dengan AHY. Probabilitas koalisinya, Demokrat, PPP, dan PKB.

Cukupkah suara ketiga partai tersebut untuk mengajukan calon presiden?

Cukup. Perolehan suara Demokrat di 2014 adalah 10,9 persen, PPP 7,7 persen, dan PKB 8 persen. Jumlahnya, 26,6 persen.

Load More Related Articles
Load More By AMALIA SALABI
Load More In Wawancara
Comments are closed.

Check Also

DCT Pemilihan Anggota DPD, Ada 3 Mantan Napi Korupsi

Bersamaan dengan penetapan Daftar Calon Tetap (DCT) Pemilihan Anggota Dewan Perwakilan Rak…